Mempertanyakan Ulang Sejarah : Otokritik Supporter Persik Kediri Pada Era Tontonan Sepak Bola Modern


Tanggal 9 Mei —website Pemkot menyebut 19 Mei— kembali dirayakan sebagai hari lahir Persik Kediri. Kota dipenuhi nyala flare, poster ulang tahun, dan narasi kebanggaan yang tersebar di media sosial. Ribuan supporter larut dalam euforia. Persik kembali dipeluk sebagai identitas kota dan kebanggaan kolektif masyarakat Kediri. Namun di tengah pesta itu, muncul satu pertanyaan yang terasa ganjil sekaligus mengganggu: apakah kita benar-benar tahu hari lahir klub yang sedang kita rayakan?

Pertanyaan tersebut mungkin terdengar sepele. Sebagian orang mungkin akan menjawab, “Yang penting cintanya, bukan tanggalnya.” Tetapi justru di situlah persoalan dimulai. Sebab di era sepak bola modern hari ini, ketika hampir seluruh aspek sepak bola telah berubah menjadi industri, mungkin satu-satunya hal terakhir yang masih dimiliki supporter hanyalah akar sejarah klubnya sendiri. Dan ironisnya, akar itu mulai kabur.

Sepak bola modern tidak lagi sekadar olahraga. Ia telah menjelma menjadi industri hiburan raksasa. Klub berubah menjadi merek dagang, stadion berubah menjadi ruang konsumsi, sementara supporter perlahan didorong menjadi pelanggan tetap yang tugasnya membeli tiket, membeli jersey, meramaikan media sosial, lalu pulang dengan rasa puas setelah menjadi bagian dari atmosfer pertandingan.

Di tengah situasi seperti itu, sejarah klub menjadi sesuatu yang sakral. Ia adalah benteng terakhir yang membuat supporter merasa bahwa klub masih memiliki hubungan dengan kota, rakyat, dan ingatan kolektifnya. Sebab supporter tidak mencintai klub hanya karena kemenangan, tetapi juga karena akar cerita.

Cerita tentang lapangan tanah, tribun tua, generasi lama yang menjaga nama klub tanpa sorotan kamera, hingga orang-orang yang membangun fondasi klub jauh sebelum sepak bola menjadi industri hiburan bernilai miliaran rupiah. Namun hari ini, perlahan sejarah pun mulai diperlakukan seperti produk.

Pemikir Prancis, Guy Debord dalam The Society of the Spectacle menjelaskan bagaimana masyarakat modern hidup di bawah “spektakel”: situasi ketika citra dan pertunjukan lebih penting daripada realitas itu sendiri. Dalam sepak bola, spektakel hadir melalui pesta ulang tahun klub, visual megah, video sinematik, flare, serta narasi heroik tentang kebanggaan kota. Semua tampak indah. Semua tampak heroik.

Namun ketika tanggal lahir klub sendiri belum memiliki fondasi penelitian sejarah yang benar-benar jelas, maka yang sedang dirayakan sebenarnya bukan sejarah, melainkan citra tentang sejarah. Kita akhirnya lebih sibuk memproduksi suasana dibanding memahami akar.

Pemikir lain, Jean Baudrillard, menyebut situasi semacam ini sebagai simulakra: ketika simbol terus direproduksi hingga dianggap nyata, meski referensi aslinya mulai hilang atau kabur. Tanggal berdiri klub diunggah di media sosial, disebut di spanduk, diteriakkan di tribun, dan lama-kelamaan diterima sebagai kebenaran mutlak meskipun belum pernah diuji secara serius melalui penelitian sejarah yang mendalam. Tanpa sadar, supporter ikut menjadi bagian dari reproduksi simbol tersebut.

Kita mengunggah desain ulang tahun. Kita menyebarkan angka usia klub. Kita membuat narasi heroik. Tetapi kita jarang bertanya: dari mana sebenarnya tanggal itu berasal? Arsip apa yang menjadi dasar? Mengapa ada beberapa versi sejarah berbeda? Siapa yang pertama kali menetapkannya? Padahal supporter selalu menyebut diri mereka sebagai penjaga sejarah klub.

Lalu bagaimana mungkin sejarah dijaga jika keabsahannya sendiri tidak pernah dipertanyakan?

Tulisan ini bukan ajakan untuk membatalkan perayaan. Bukan pula upaya merusak kebahagiaan supporter yang mencintai Persik. Sebab cinta supporter tidak perlu diragukan. Namun justru karena cinta itu besar, maka hal semacam ini perlu dihadirkan. Karena cinta tanpa refleksi mudah berubah menjadi konsumsi simbol belaka.

Kita perlu jujur mengakui bahwa sepak bola modern telah membuat banyak supporter lebih akrab dengan pakaian brand baru ala-ala casual dibanding arsip sejarah klubnya sendiri. Lebih hafal jadwal peluncuran tim daripada cerita orang-orang yang dahulu membangun fondasi Persik di kota ini.

Dan mungkin inilah tragedi terbesar sepak bola modern: bukan ketika klub kalah, melainkan ketika sejarahnya perlahan hilang di tengah pestanya sendiri.

Oleh sebab itu, otokritik menjadi penting. Supporter tidak cukup hanya menjadi penjaga atmosfer tribun. Supporter juga harus menjadi penjaga ingatan kolektif. Menjadi orang-orang yang mau menggali arsip lama, mendiskusikan sejarah kota, menelusuri tokoh-tokoh awal klub, dan berani mengkritik narasi resmi apabila memang belum benar-benar selesai diverifikasi.

Sebab tanpa kesadaran sejarah, supporter perlahan hanya akan menjadi konsumen romantisme. Dan romantisme tanpa akar sangat mudah dijual ulang oleh industri.

Hari ini kita mungkin masih bisa menyalakan flare dan bernyanyi dengan bangga. Namun di sela semua perayaan itu, ada satu pertanyaan yang harus terus dijaga agar tidak mati: apakah kita masih benar-benar mencintai sejarah klub ini, atau hanya mencintai bentuk perayaannya?

Karena mungkin, di zaman sepak bola modern yang semakin industrial dan penuh spektakel ini, hal terakhir yang benar-benar dimiliki supporter hanyalah sejarah. Dan jika sejarah itu ikut kabur, lalu sebenarnya apa yang sedang kita pertahankan? 

Komentar

Postingan Populer