Obituari: Bimo Imam Wicaksono
"Lahir, Bermanfaat, lalu Mati." – bio X Bimo Imam Wicaksono
Di dunia yang terus bergerak tanpa jeda, kita kadang tak menyadari betapa kehadiran seseorang menyinari hari-hari kita, hingga pada akhirnya ia pergi, dan segala terang itu serasa ikut padam. Hari itu, langit seolah kehilangan nadanya. Udara jadi lebih berat, dan waktu bergerak lebih lambat. Karena hari itu, kami kehilangan sosok yang bukan hanya kawan, tapi juga seorang saudara, dan roh dalam kebersamaan kami—Bimo Imam Wicaksono.
Ia bukan orang yang mencari tempat di atas panggung untuk disorot. Ia justru membiarkan dirinya menyala di antara barisan, di antara teriakan dan peluh, di antara sorakan dan tawa yang menyatu di tribun stadion. Bimo adalah sosok yang berjalan bersama kami, membentuk makna bersama, dan menghidupkan semangat yang kini terasa hampa tanpanya.
Rumah Kedua yang Diperjuangkannya
Di antara deretan suporter fanatik Persik Kediri, nama Cyberxtreme bukan sekadar nama. Ini adalah sebuah rumah. Sebuah napas yang lahir dari cinta terhadap klub dan menjadi kemelekatan identitas kultural. Dan di rumah itulah, Bimo menjadi salah satu jiwanya.
Ia bukan penonton. Ia pelaku. Ia pemantik. Ia berdiri ketika kami meneriakkan semangat, tapi juga duduk paling tenang saat diskusi perlu arah. CX, bagi Bimo, bukan hanya tempat berkumpul—ia adalah rumah. Ia percaya bahwa mendukung klub kesayangan bukan sekadar datang ke stadion, tetapi ikut merawat semangat, membangun kesadaran, dan menjaga solidaritas di antara sesama.
Di tengah CX, ia dikenal karena keteguhan dan hatinya yang lapang. Bimo sering menjadi penghubung antara perbedaan-perbedaan kecil yang kadang muncul di antara kami. Ia hadir sebagai pengingat bahwa kita bukan sekadar pendukung, tapi juga keluarga. Tak heran jika setiap orang, merasa nyaman saat bersamanya.
Backside: Panggung dan Suaranya
Bimo adalah vokalis Backside, sebuah band suporter yang lahir dari semangat tribun dan cinta pada warna kebanggaan. Di sana, ia mengubah sorakan menjadi syair. Ia mengubah semangat menjadi nada. Ia menyanyikan lagu-lagu yang bukan hanya menggugah semangat sebelum laga, tetapi juga menjadi pengikat emosional kami dengan klub ini.
Di tiap bait yang ia lantunkan, ada keberanian. Ada kegembiraan. Ada kenangan yang terus kami bawa. Bimo bukan sekadar menyanyi; ia menyampaikan pesan. Pesan tentang loyalitas, tentang perjuangan, tentang kegigihan, dan tentang bagaimana klub ini telah menjadi bagian dari kehidupan kami.
Di atas panggung kecil di tengah komunitas atau melalui rilisan-rilisan rekaman mereka, suara Bimo tak hanya menggelegar—ia menyatu dalam dada kami. Ia adalah lagu itu sendiri. Dan kini, meski suaranya tak lagi bisa kami dengar secara langsung, gema yang ia tinggalkan akan terus hidup dalam setiap teriakan kami untuk Persik.
Kepergian yang Terlalu Cepat
Kami tidak pernah siap. Tak akan pernah siap. Karena bagaimana mungkin kita menerima kenyataan bahwa seseorang seperti Bimo—yang selalu ada, yang selalu kuat, yang selalu punya energi untuk menyemangati orang lain—harus pergi?
Kepergiannya meninggalkan lubang besar di hati kami. Tapi dari lubang itu, tumbuh rasa rindu, cinta, dan tekad untuk meneruskan apa yang ia mulai. Kami tahu, Bimo tak akan tenang kalau kami larut dalam kesedihan. Ia ingin kami tetap rukun. Tetap berkumpul. Tetap menghidupi hidup itu sendiri.
Warisan: Lebih dari Sekadar Lagu dan Kenangan
Apa yang ditinggalkan Bimo bukan hanya rekaman lagu atau slogan komunitas. Ia meninggalkan warisan yang hidup: semangat tak kenal lelah, kesetiaan yang tidak berpura-pura, dan cinta yang tidak egois. Ia telah membentuk cara kami memandang pertemanan, perjuangan, bahkan hidup itu sendiri.
Dalam setiap langkah kami selanjutnya, akan selalu ada sedikit suara Bimo di sana. Kadang dalam bentuk tawa. Kadang dalam lirik. Kadang hanya dalam senyap, tapi tetap hadir.
Sampai jumpa, Kawan.
Ada orang-orang yang datang ke dunia ini bukan sekadar untuk hidup—tetapi untuk memberi makna. Salah satunya adalah Bimo, sahabat, saudara, dan cahaya bagi banyak jiwa yang pernah disentuh olehnya. Saat ini, kami harus menerima kenyataan pahit bahwa ia telah berpulang, meninggalkan jejak yang dalam namun indah dalam kehidupan kami.
Selamat jalan, Bimo. Istirahatlah dalam damai, di tempat di mana suara tak pernah pudar dan nyanyianmu terus menggema. Engkau telah mengajarkan kami untuk hidup dengan tujuan, untuk mencinta dengan tulus, dan untuk meninggalkan jejak yang tak mudah hilang.
Kau lahir, kau hadir dan kini kau telah pergi. Tapi tak satupun dari kami yang akan melupakanmu. Namamu akan terus disebut, kisahmu akan terus diceritakan, dan semangatmu akan terus kami hidupkan.
Kami tak mengucapkan selamat tinggal. Kami hanya berkata: sampai jumpa, di ujung tribun lain, di dimensi lain, di mana kita akan kembali bernyanyi dan semangat tidak pernah mati.
Alfatihah, Bimo IW 🕊
x


Komentar
Posting Komentar