Maaf, Aku Sudah Mencoba, Bu
Ia mati jauh sebelum itu; di ruang-ruang wawancara yang dingin, di kursi plastik yang menghadap meja HRD dengan senyum profesional, di email otomatis yang berbunyi: “Terima kasih atas partisipasi Anda.”
Tali itu hanya menyelesaikan apa yang telah dimulai oleh dunia.
Tubuhnya ditemukan tergantung di kamar kontrakan yang bahkan belum lunas tiga bulan. Jendela tertutup rapat. Udara di dalamnya pengap, seperti paru-paru yang terlalu lama menahan kecewa.
Yang pertama datang adalah pemilik kontrakan. Lalu tetangga. Lalu polisi. Lalu kabar menyebar lebih cepat daripada doa.
Di rumah, ibunya sedang menanak nasi ketika telepon berdering.
Ia tidak pingsan. Ia tidak menjerit seperti adegan sinetron. Ia hanya terdiam, sendok kayu di tangannya jatuh ke lantai, dan untuk beberapa detik dunia menjadi suara berdenging panjang.
Anak itu bernama Paijo.
Lulus dengan kecerdasan yang cukup untuk dibanggakan di kampung. Wisuda dengan jas pinjaman. Foto bersama ibu di depan gedung kampus negeri yang megah itu; sebuah bangunan yang berdiri dari pajak orang-orang seperti mereka.
Empat tahun lebih kuliah dibayar dengan pinjaman. Bunga yang tumbuh diam-diam seperti jamur di dinding rumah.
“Tenang saja, Bu. Nanti kalau aku kerja, kita lunasi pelan-pelan.”
Kalimat itu pernah terdengar gagah.
Dua tahun setelah wisuda, kalimat itu berubah menjadi beban yang menggantung di langit-langit kamar.
Paijo melamar ke mana-mana. Perusahaan logistik. Bank swasta. Startup yang katanya revolusioner. Ia ikut pelatihan gratis, webinar motivasi, kelas daring tentang “cara menjual diri di pasar kerja.” Ia belajar bagaimana tersenyum di depan orang yang bahkan tak ingat namanya lima menit kemudian.
Ia berkali-kali dinyatakan “overqualified”. Berkali-kali juga “kurang pengalaman”.
Negara ini lucu, pikirnya suatu malam.
Mereka menyuruhmu sekolah tinggi-tinggi. Lalu bertanya kenapa kau tidak punya pengalaman.
Yang lebih kejam adalah utang itu.
Tagihan datang seperti ancaman sopan. Pesan dari nomor tak dikenal: “Segera lakukan pembayaran untuk menghindari tindakan lebih lanjut.” Bunga berjalan lebih cepat daripada kesempatan kerja.
Ibunya tidak pernah benar-benar tahu angka pastinya. Paijo menyembunyikannya seperti menyembunyikan luka yang membusuk.
Dan ada Kekasihnya.
Perempuan yang menemaninya sejak semester tujuh. Perempuan yang percaya bahwa cinta bisa lebih keras dari kenyataan. Mereka sering duduk di trotoar depan kos, berbagi rokok satu batang, membicarakan masa depan seperti dua orang yang yakin dunia punya ruang untuk mereka.
“Aku gak butuh kamu kaya,” kata Sang Kekasih suatu malam. “Aku cuma butuh kamu hidup.”
Paijo tertawa waktu itu.
Ia tidak tahu bahwa hidup justru menjadi hal yang paling mahal.
Beberapa minggu sebelum kematiannya, Paijo mulai jarang membalas pesan. Ia mengatakan sedang sibuk. Padahal ia hanya duduk lama menatap langit-langit kamar yang kosong. Ia merasa seperti barang diskon di etalase: dilihat, dipertimbangkan, lalu ditinggalkan.
Di buku catatannya ada satu kalimat yang ditulis berulang-ulang:
"Apa gunanya aku kalau tak bisa menghasilkan?"
Itu bukan kalimat yang lahir dari ruang hampa.
Itu kalimat yang ditanam pelan-pelan oleh iklan lowongan kerja, oleh seminar sukses, oleh obrolan tetangga yang bertanya, “Sudah kerja di mana?”, oleh berita tentang bonus miliaran para pejabat, oleh foto-foto teman kuliah yang pamer ID card perusahaan multinasional.
Paijo merasa dirinya cacat dalam sistem yang katanya meritokratis.
Malam itu, sebelum tali melingkar di lehernya, ia sempat merekam pesan suara untuk Kekasihnya. Tapi tidak pernah dikirim. Dalam rekaman itu suaranya pecah.
“Maaf. Aku capek jadi beban.”
Sang Kekasih mendengarnya dua hari kemudian, dari polisi yang membuka ponsel Paijo.
Tangis Kekasihnya tidak seperti tangis Ibu.
Tangisnya keras. Penuh amarah.
Ia menendang kursi di ruang tamu rumah duka. Ia memukul dadanya sendiri. Ia berteriak pada foto Paijo yang diletakkan di atas meja.
“Kamu pengecut!” teriaknya. “Kamu bilang kita lawan sama-sama!”
Tapi di sela amarahnya, ada sesuatu yang lebih mengerikan: pengertian.
Ia tahu betul bagaimana Paijo berubah setiap kali pesan penagih utang masuk. Ia tahu bagaimana rahang Paijo mengeras setiap kali mendengar berita PHK massal. Ia tahu bagaimana Paijo mulai menghindari cermin, bahkan foto di depan kamera.
Ibu Paijo duduk di sudut ruangan, memeluk kerudungnya sendiri.
Orang-orang berdatangan dengan ucapan biasanya. “Sudah takdir.” “Yang sabar.” “Mungkin jalannya begitu.”
Sang Kekasih ingin menampar semua kalimat itu.
"Takdir macam apa yang bernama bunga pinjaman?"
"Takdir macam apa yang berbentuk email penolakan?"
"Takdir macam apa yang menjadikan harga diri seorang laki-laki setipis slip gaji?"
Di kuburan, tanah menutup tubuh Paijo dengan cepat. Negara tidak hadir di sana. Tidak ada pejabat yang datang membawa permintaan maaf karena telah membiarkan generasi mudanya tenggelam dalam utang pendidikan dan pasar kerja yang sempit.
Yang ada hanya ibu yang gemetar ketika segenggam tanah terakhir jatuh.
“Maafkan Ibu,” bisiknya.
Ia merasa gagal melindungi anaknya dari dunia.
Padahal dunia itu jauh lebih besar dari dapur kecilnya.
Setelah pulang, Ibu duduk di kasur Paijo; kasur yang jarang ia tempati setelah ia pergi kuliah. Tangannya meraba bantal yang masih sedikit berbau rambut anaknya. Ia memeluk bantal itu seperti memeluk tubuh yang tak lagi ada.
Di luar, suara motor lewat. Hidup tetap berjalan dengan wajah tanpa rasa bersalah.
Ibu akhirnya mengerti sesuatu yang pahit:
Bukan kematian yang paling menyakitkan. Tapi perasaan bahwa anaknya merasa sendirian ketika memilih mati.
Air matanya jatuh lagi. Kali ini lebih pelan.
Malam setelah pemakaman, ibu membuka lemari Paijo. Ia menemukan map lamaran kerja itu. Sudutnya sudah sobek. Kertas CV di dalamnya penuh coretan kecil: revisi pengalaman, tambahan sertifikat, penghapusan kalimat “siap bekerja di bawah tekanan.”
Ibu menyentuh tulisan tangan itu.
Anaknya ternyata lelah menjadi kuat.
Ia menemukan juga buku catatan kecil. Di salah satu halaman tertulis:
“Aku sudah mencoba. Tapi setiap pintu seperti punya mata yang melihatku tidak cukup.”
Tinta di kalimat itu sedikit luntur. Mungkin terkena air. Mungkin air mata. Ibu tak tahu.
Ia terduduk di lantai kamar.
Ia kembali menangis lagi. Tangisnya seperti suara kain disobek pelan-pelan. Panjang. Seret. Tidak dramatis, tapi menyiksa.
“Kenapa kamu tidak cerita lebih banyak, Nak…” bisiknya pada lemari yang terbuka.
Padahal ia ingat betul beberapa malam lalu ketika di rumah, Paijo duduk lama di ruang tamu. Lampu mati. Hanya cahaya dari luar yang masuk tipis. Ia sempat bertanya, “Kamu belum tidur?”
Paijo menjawab pendek, “Sebentar lagi, Bu.”
Ia tidak tahu “sebentar lagi” itu ternyata berarti selamanya.
Beberapa hari setelah pemakaman, Kekasihnya datang ke rumah. Ia duduk berdua dengan ibu Paijo. Tidak banyak kata. Hanya dua perempuan yang sama-sama kehilangan, dengan cara yang berbeda.
“Apa dia pernah cerita soal utangnya, Nak?” tanya ibu pelan.
Kekasihnya mengangguk. Air matanya jatuh.
“Dia takut dianggap gagal, Bu.”
Ibu menutup wajahnya.
Anak itu tidak mati hanya karena putus asa. Ia mati karena percaya bahwa dirinya hanyalah angka produktivitas.
Ia mati karena sistem yang memuja pertumbuhan ekonomi lebih keras daripada memeluk warganya yang jatuh.
Ia mati karena negara lebih sibuk membangun gedung daripada membangun jaring pengaman.
Paijo bukan satu-satunya.
Di luar sana, banyak kamar pengap lain. Banyak map lamaran kerja yang sudutnya mulai robek. Banyak pesan “Maaf, Bu” yang belum sempat dibaca.
Malam itu, Sang Kekasih berdiri di depan foto Paijo.
“Aku gak akan maafin kamu,” bisiknya lirih. “Tapi aku juga gak akan maafin mereka.”
Di luar rumah, spanduk lowongan kerja baru dipasang di tiang listrik. Kata-katanya menjanjikan masa depan.
Angin malam menggerakkannya pelan.
Seperti bendera kecil yang berkibar di atas tanah yang baru saja menelan seorang anak lagi, lagi, dan lagi.



Komentar
Posting Komentar