Tidak Berjudul
Aku bangun setiap pagi tanpa alasan. Matahari bagiku juga bukan sebuah janji, ia hanya lampu besar yang dipaksa menyinari bangkai peradaban.
Aku hidup di tubuh seorang penganggur, dengan hutang yang mencekik leherku seperti tali pada leher kambing/sapi. Aku hidup dengan rasa optimis yang sudah berkali-kali kubunuh sendiri karena terlalu muak aku dibuatnya.
Aku sering menertawakan diriku yang gagal, dan menertawakan dunia yang lebih gagal lagi.
Jika hidup adalah panggung sandiwara, maka aku adalah aktor yang berupaya keluar dari naskah, merobek skenario, dan berteriak:
"Persetan dengan peran yang kalian tulis untukku!"
Jika dunia ingin aku hancur, biarlah aku hancur dengan tawa yang paling nyaring. Dan jika hidup ingin aku hilang, biarlah aku hilang dengan kepala tegak. Karena di titik nadir inilah aku justru menemukan diriku yang paling jujur—getir, pesakitan, gelap, tapi masih hidup.


Komentar
Posting Komentar