Menghidupi Dunia yang Menghancurkan: Sambatan Tentang Waktu dan Luka yang Tidak Sembuh



Dunia yang Tak Lagi Waras

Ada pagi-pagi tertentu yang rasanya seperti kutukan. Mata membuka dengan susah payah, bukan karena malam sebelumnya diisi pesta atau kerja lembur, tapi karena hidup terasa terlalu berat untuk dihadapi. Kau duduk diam di tepi ranjang, memandangi tembok, dan mendengarkan suara hatimu sendiri yang pelan-pelan berubah jadi gemuruh: “Kapan semua ini selesai?”

Aku 24 tahun, pekerja harian lepas, hidup dari gaji yang belum pasti dan utang yang bahkan bunganya lebih hidup daripada aku. Kuliahku molor, bukan karena aku bodoh, tapi karena dunia ini seperti sengaja menghalangiku untuk selesai. Dan aku tahu, aku bukan satu-satunya. Di balik tembok kos-kosan muram, di sela gang-gang sempit kota-kota kecil, berjuta anak muda seusiaku sedang dicekik oleh hal yang sama: waktu yang membusuk, beban yang tak terbagi, dan sistem yang tak pernah berpihak.

Dalam kesunyian yang panjang itu, aku teringat ucapan Cak Nun:

“Jangan sampai ada yang membuatmu frustasi dari dunia ini.”

Dan juga kesan pertemuanku dengan Zen RS:

“Silakan jadi apapun, asal jangan jadi pemalas dan penindas.”

Kalimat-kalimat itu seperti batu kecil yang dilempar ke kolam yang tergenang: memecah diam, memantulkan gelombang. Tapi, airnya tetap keruh.

Dunia ini tak lagi waras. Kita hidup dalam sebuah sistem yang membentuk manusia menjadi mesin: produktif, cepat, efisien—tapi kosong. Erich Fromm menyebut zaman ini sebagai masa di mana manusia telah kehilangan dirinya sendiri. Kita menjual waktu, tenaga, bahkan impian, demi bertahan dalam sistem yang menyedot habis kemanusiaan kita. Kita disuruh bekerja agar bisa hidup, tapi lupa bagaimana hidup yang sebenarnya.

Bukan hanya kapitalisme yang menindas, tapi juga norma sosial, dan kadang—pikiran kita sendiri. Kita tumbuh di antara harapan yang terlalu tinggi dan kenyataan yang tak memberi tumpuan. “Sukses” menjadi ilusi, dan “gagal” menjadi stigma. Di tengah segala itu, frustrasi menjadi wajar, tetapi tidak pernah dianggap pantas.

Namun, bukankah kita masih di sini? Masih bisa berpikir. Masih bisa marah. Masih bisa menolak untuk ikut menjadi waras dalam dunia yang gila.

Sambatan ini bukan tentang keluhan. Ini adalah upaya kecil untuk melawan dengan semampunya, bertahan dengan pikiran, dan bercerita sebagai bentuk eksistensi. Karena seperti kata Zygmunt Bauman, dalam dunia cair ini, yang bisa kita lakukan hanyalah belajar berenang—meski arusnya tak pernah bersahabat.

Kalau dunia ini memang sedang runtuh, maka aku ingin meruntuhkannya dari dalam, dengan kalimat-kalimat yang jujur, getir, dan tetap menyala.

Pengangguran, Utang, dan Waktu yang Membusuk

Ada semacam kebusukan yang tidak kasat mata tapi terus merayap, menyusupi waktu dan menghuni tubuh. Ia bukan penyakit medis, tapi lebih seperti kelumpuhan eksistensial—di mana hari-hari lewat tanpa makna, dan masa depan tak pernah terasa dekat. Itulah pengangguran dalam bentuknya yang paling menyiksa: bukan sekadar tak bekerja, tapi juga kehilangan arah, kehilangan pijakan, dan perlahan kehilangan percaya pada hidup.

Orang-orang bilang, “semangat ya, kerja pasti datang.” Tapi mereka tak tahu betapa pasar kerja lebih mirip labirin penuh jebakan. Ijazah tak lagi jaminan, apalagi dari jurusan yang tak dianggap “menjual.” Di antara lowongan kerja yang makin langka, ekspektasi keluarga yang terus menggantung, dan tekanan hidup yang menuntut kau tetap tampak kuat—pengangguran bukan lagi soal ekonomi, tapi soal kebengisan sosial dan politik.

Sementara itu, utang datang seperti teman lama yang tiba-tiba mengetuk pintu. Pelan-pelan tapi pasti, ia menggantikan keberanian dengan kekhawatiran. Satu utang demi utang ditumpuk seperti bata dalam bangunan keputusasaan. Kadang hanya untuk makan, kadang untuk bayar kos, kadang untuk biaya skripsi yang tak kunjung rampung. Dan saat kau menatap tumpukan pinjaman yang belum terbayar, satu-satunya yang terasa nyata hanyalah keputusasaan yang dalam.

Zygmunt Bauman menyebut hidup masa kini sebagai liquid modernity—zaman cair yang tak menawarkan kepastian, hanya perubahan tanpa akhir. Di tengah itu, kita hidup sebagai manusia yang terus digerus waktu, ditelan kecepatan, dan dibiarkan berenang tanpa arah. Waktu yang seharusnya mendewasakan, justru membusuk di tangan. Hari demi hari lewat begitu saja: pagi, siang, malam—dan besok kembali mengulang, dengan luka yang sama.

Lalu di manakah ruang untuk menghela napas? Di mana tempat berlindung dari dunia yang terus menuntut tanpa memberi? Tidak ada. Maka banyak yang memilih menghilang. Diam-diam, atau secara drastis.

Tetapi di sinilah pilihan itu muncul: apakah kita akan ikut membusuk bersama waktu, atau kita akan memeluk luka itu dan menuliskannya? Pengangguran, utang, dan waktu yang membusuk bukan akhir dari segalanya—ia adalah cermin paling jujur dari sebuah sistem sosial yang cacat. Dan justru di tengah kehancuran ini, kesadaran kita tentang betapa rusaknya dunia bisa menjadi bahan bakar untuk bertahan.

Aku tidak ingin jadi korban diam. Maka aku kerap sambat seperti ini, bukan untuk dikasihani, tapi untuk menyatakan bahwa aku masih ada. Bahwa kami yang nganggur, yang berutang, yang kuliahnya molor—masih hidup dan punya suara.

Kuliah Molor dan Dunia Pendidikan yang Tak Lagi Menyelamatkan

Tak ada yang bercita-cita kuliah molor. Semua orang masuk universitas dengan harapan yang sama: menyelesaikan studi tepat waktu, menyandang gelar, lalu diterima kerja dengan senyuman keluarga sebagai penutup. Tapi tidak semua cerita berjalan sesuai kurikulum. Ada yang terseret hidup, terganjal beban, atau sekadar kehilangan arah. Dan ketika kuliah molor menjadi kenyataan, dunia seakan memalingkan muka.

Aku tahu bagaimana rasanya. Rasanya seperti hidup dalam jeda panjang yang tak dimengerti siapa pun kecuali diri sendiri. Kau datang ke kampus, tapi teman-teman sudah lulus. Ingin buka laptop, tapi tak punya. Dosen sibuk, birokrasi rumit, dan semangatmu menguap entah ke mana. Kau bukan mahasiswa baru, tapi juga belum selesai. Gantung. Hampa. Terasing.

Pendidikan, yang dulu dijanjikan sebagai jalan keselamatan, kini lebih terasa seperti jebakan yang dipoles indah. Paulo Freire, dalam bukunya Pedagogy of the Oppressed, menyebut pendidikan modern sebagai "banking system"—sistem menjejalkan isi kepala, bukan membebaskan pikiran. Kita tak dididik untuk hidup, tapi untuk ikut antri dalam sistem kerja. Maka, ketika sistem itu gagal menampung kita, kita terlempar seperti barang cacat produksi.

Tak sedikit yang menganggap kuliah molor adalah bentuk kegagalan personal. Tapi mereka lupa, bahwa banyak dari kita kuliah sambil kerja, sambil membantu keluarga, sambil menahan beban mental yang tak terlihat. Sistem tak pernah mempertimbangkan kompleksitas itu. Kita diukur dengan angka IPK dan lama studi, bukan dengan apa yang kita perjuangkan dalam diam.

Molor bukan karena malas. Molor karena hidup tidak selalu linear. Kadang-kadang, perjuangan lebih berat daripada sekadar ujian akhir. Ada hari-hari ketika berangkat ke kampus saja sudah menjadi kemenangan. Tapi siapa yang peduli?

Di tengah itu semua, aku belajar satu hal: pendidikan sebenarnya bukan soal cepat selesai, tapi soal terus berpikir. Soal mempertahankan akal sehat di tengah tekanan yang tak adil. Soal mempertanyakan, bukan sekadar menghafal.

Dan jika dunia pendidikan tak lagi menyelamatkan, maka kita harus menyelamatkan diri sendiri—dengan belajar di luar kelas, membaca dunia seperti teks, dan melawannya sebagai cara untuk mengingat bahwa kita pernah berpikir bebas.

Aku memang belum lulus, tapi aku tidak bodoh. Aku hanya sedang bertahan.

Menjadi Dewasa dalam Reruntuhan: Usia 24 dan Luka yang Tidak Pernah Diundang

Usia dua puluh empat tahun. Angka yang di mata banyak orang harusnya berarti: lulus kuliah, dapat kerja, mulai menata hidup, punya cita-cita yang mulai berbentuk nyata. Tapi bagi sebagian dari kami, umur ini tak lebih dari angka yang menyimpan reruntuhan. Reruntuhan harapan, reruntuhan ketenangan, reruntuhan diri yang tak pernah selesai dibangun.

Kadang aku merasa, usia 24 bukan tentang menjadi dewasa—melainkan tentang belajar menerima bahwa hidup tak pernah sesuai dengan naskah. Tak ada upacara peresmian menuju kedewasaan. Yang ada hanya malam-malam yang sunyi, penuh kekhawatiran, ditemani suara kipas angin dan layar ponsel yang tak kunjung membawa kabar baik. Tak ada tepuk tangan, hanya hutang, skripsi yang membeku, dan lamaran kerja yang tak berbalas.

Aku merasa asing di tubuh sendiri. Aku tahu aku bernapas, tapi tak merasa hidup. Aku makan, tapi tak merasa kenyang. Aku tertawa, tapi kosong di dalam. Luka-luka yang kutanggung tidak pernah kupesan, tak pernah kukehendaki, tapi ia datang seperti warisan yang diam-diam diwariskan oleh dunia yang tak adil.

Jean-Paul Sartre pernah bilang, “Existence precedes essence”—kita dilempar ke dunia ini, tanpa pilihan, lalu harus menciptakan makna sendiri. Tapi bagaimana menciptakan makna di tengah reruntuhan, saat semua yang kita andalkan runtuh satu per satu?

Orang tua pun tak selalu paham. Mereka ingin kita bahagia, tapi tak tahu bagaimana caranya membantu. Mereka pun lelah. Kita pun diam, demi tak menambah beban. Maka luka itu jadi milik pribadi—disimpan rapat-rapat, seperti rahasia buruk yang kita rawat diam-diam.

Di malam-malam tertentu, aku bertanya: “Apa ini semua salahku?” Tapi perlahan, aku belajar bahwa kadang bukan kita yang rusak, tapi dunia yang tak pernah mengizinkan kita tumbuh dengan utuh. Sistem ekonomi yang menindas, struktur sosial yang membebani, dan realita yang lebih suka menghakimi daripada memahami.

Maka menjadi dewasa di umur 24, bagi kami, bukan tentang sukses atau karier. Tapi tentang bertahan hidup tanpa kehilangan nurani, tentang bangkit dari tempat tidur meski hati tak sepenuhnya utuh, tentang menahan tangis agar tak pecah di tengah jalan raya.

Kami yang luka bukan pecundang. Kami hanya manusia yang tak berhenti berjalan, meski jalannya tertatih.

Dunia yang Kejam dan Tubuh Lelaki yang Tak Boleh Menangis

Menjadi lelaki dalam dunia ini seperti menjadi tembok: harus kokoh, tegak, tak retak, dan tak boleh menangis. Bahkan ketika yang ditahan bukan lagi air mata, tapi kesedihan yang menggumpal dan mengeras seperti batu dalam dada. Kita tumbuh dalam narasi yang sama: laki-laki harus kuat, harus tahan banting, harus mencari nafkah, harus menyembunyikan luka. Dan ketika gagal, bukan hanya dituduh lemah, tapi juga dianggap tak berguna.

Aku sudah lelah berpura-pura baik-baik saja. Lelah menjawab “nggak papa” ketika ditanya, padahal isi kepala penuh suara-suara yang mencekam. Lelaki seperti aku, di umur 24 tahun, bukan hanya memikul beban ekonomi, tapi juga beban ekspektasi sosial yang membunuh pelan-pelan. Rasanya seperti dihukum karena merasa.

Lelaki tidak boleh terlihat rentan. Maka kita menyimpan semuanya sendiri. Kita tidak pergi ke psikolog karena dianggap “tidak waras.” Kita tidak menangis karena takut disebut cengeng. Kita tidak bercerita karena takut diremehkan. Maka semua luka, semua kegagalan, semua sesak, dikunci rapat-rapat di dalam tubuh yang perlahan melemah.

Frantz Fanon menulis dalam Black Skin, White Masks, tentang bagaimana sistem kolonial merampas identitas dan menggantinya dengan topeng. Lelaki di masa kini pun memakai topeng: topeng kuat, topeng tenang, topeng mandiri. Tapi tak ada yang benar-benar tahu seberapa sesak di balik itu semua. Dunia terlalu kejam bagi siapa pun yang jujur pada lukanya.

Sialnya, sistem ini dibuat untuk tak memberi ruang bagi kelembutan. Semua harus cepat, keras, dan produktif. Maka lelaki yang berdiam, yang tidak menghasilkan, dianggap gagal. Padahal mungkin yang sedang dilakukan hanyalah bertahan hidup dengan cara paling sunyi. Lelaki yang tidak bicara, bukan berarti tidak berpikir. Lelaki yang tidak menangis, bukan berarti tidak sakit.

Aku menulis ini untuk semua lelaki muda yang sedang tenggelam. Aku tahu kita lelah. Tapi mungkin dari kata-kata yang tertuang, akan tumbuh keberanian untuk mengakui: kita bukan mesin. Kita boleh menangis. Kita berhak gagal. Kita juga manusia.

Jalan Tengah antara Kelembaman dan Kekejaman

Dalam dunia yang terlampau cepat, ada dua jalan yang disodorkan padamu: menjadi pemalas yang ditinggal, atau menjadi penindas yang memimpin. Tapi keduanya sama-sama mengerikan. Satu membunuh dirimu perlahan, satu membunuh orang lain demi dirimu. Lalu di mana ruang untuk menjadi manusia yang utuh? Di mana ruang untuk berjalan pelan, tapi tidak meninggalkan siapa pun?


Zen RS pernah bergumam kepadaku pada pertemuan suatu lalu saat ia di Kediri:


“Silakan jadi apa pun, asal jangan jadi pemalas dan penindas.”


Kalimat itu bukan nasihat moral kosong. Ia adalah penanda bahwa dunia ini sudah begitu ekstrem, hingga memilih untuk tidak menjadi keduanya adalah tindakan radikal. Menolak menjadi malas—tapi juga menolak menjadikan orang lain tangga menuju sukses. Menolak sistem meritokrasi yang membenarkan kekejaman atas nama kerja keras.

Kelembaman dan kekejaman adalah dua wajah dari sistem yang sama. Yang satu terlihat pasif, tapi diam-diam membusuk. Yang satu tampak aktif, tapi perlahan memusnahkan sesama. Zen mengajak kita menolak keduanya, dan mencari jalan tengah: menjadi manusia yang bekerja, tapi tidak melupakan belas kasih. Menjadi manusia yang bertahan, tapi tidak membunuh dalam prosesnya.

Apa artinya sukses, jika di atas penderitaan orang lain? Apa artinya kerja keras, jika membuat kita lupa bagaimana rasanya jadi lemah? Dunia sudah terlalu banyak melahirkan monster dalam jas kerja dan blazer formal. Kita tidak perlu menambah jumlahnya.

Menjadi manusia, kata Zen, bukan soal kecepatan, tapi keberpihakan. Jika kita bisa memilih untuk tetap jujur, tetap peduli, tetap berpikir, maka kita sedang melakukan perlawanan paling mendalam terhadap sistem yang mengharuskan kita membatu.

Pesimisme yang Menggumpal Menjadi Amarah

Di batas-batas tertentu, frustasi tidak lagi sekadar rasa kehilangan arah. Ia tumbuh, membengkak, mengental, hingga akhirnya berubah menjadi bara. Menjadi kemarahan yang dalam—bukan pada satu orang, bukan pada satu nasib, tapi pada seluruh tatanan yang memungkinkan ini semua terjadi.

Aku terlampau pesimis. Terlampau sering menahan tangis, menahan lapar, menahan kecewa. Hingga akhirnya, semua yang kutahan itu membentuk tubuh lain dalam diriku: tubuh yang melawan. Tapi bukan hanya lewat menulis. Tidak cukup bagiku sekadar menuangkan luka ke atas kertas. Luka ini meminta tubuh. Meminta gerakan. Meminta tindakan.

Aku bergerak, dalam bentuk apapun. Kadang membagikan makanan, kadang mendampingi teman yang kehilangan arah, kadang sekadar hadir dalam ruang-ruang yang tak diinginkan sistem. Di situlah perlawanan itu hidup: bukan sebagai slogan, tapi sebagai pilihan hidup sehari-hari. Aku menolak tunduk. Aku menolak pasrah.

Pesimisme semacam ini tak boleh dibungkam. Ia harus ditarik keluar menjadi energi. Menjadi langkah-langkah kecil yang menolak dunia ini berjalan seperti biasanya. Sebab seperti kata Cak Nun, kita tak boleh membiarkan dunia membuat kita frustasi—dan bagiku, itu berarti mengubah frustasi menjadi nyala, bukan hanya kata-kata.

Aku tidak sedang berkhotbah. Aku hanya sedang menolak menjadi abu. Aku tahu, sistem ini terlalu besar untuk aku tumbangkan sendiri. Tapi aku juga tahu, duduk diam hanya akan membuat luka ini jadi bangkai. Maka aku bergerak. Kadang pelan, kadang sendiri, kadang ragu. Tapi aku bergerak.

Perlawanan tak harus heroik. Ia bisa lahir dari memilih untuk tetap peduli, tetap hadir, tetap berbuat meski kecil. Dan aku percaya: jika cukup banyak dari kita yang rasa pesimisnya berubah menjadi tindakan, maka dunia ini, betapapun kuatnya, bisa kita retakkan.

Dunia Hancur, Tapi Kita Tidak Harus Ikut Runtuh

Dunia ini sudah hancur. Tapi kehancurannya tidak selalu tampak sebagai reruntuhan fisik. Ia hadir sebagai kesepian yang mengeras. Sebagai manusia-manusia yang hilang arah. Sebagai pagi yang tak lagi punya tujuan. Ia hancur dalam sunyi, dalam senyum palsu, dalam lamaran kerja yang tak dijawab.

Tapi meski dunia ini runtuh, aku tidak ingin ikut hancur bersamanya. Aku ingin tetap hidup. Bukan hanya bernapas, tapi hidup dengan penuh kesadaran. Aku ingin menghidupi luka, bukan menekannya. Aku ingin menjadi manusia yang tetap memilih cinta, di tengah dunia yang mengagungkan kekerasan.

Aku mungkin belum lulus. Mungkin belum bekerja. Mungkin masih berutang. Tapi aku tidak kalah. Aku masih berpikir. Masih melawan. Masih menangis. Dan itu berarti aku masih manusia.

Seperti kata Bell Hooks, cinta adalah tindakan pemberontakan. Maka mencintai diriku sendiri adalah bentuk perlawanan terhadap dunia yang ingin membuatku benci diri sendiri. Sambat seperti ini pun adalah cinta. Untuk diriku, untuk orang-orang sepertiku, untuk dunia yang masih bisa diselamatkan.

Kalau kau membaca ini dan merasa hidupmu juga hancur, aku bersamamu. Kita tidak sendirian. Kita mungkin tak kuat, tapi kita belum selesai. Dan mungkin, itu saja sudah cukup untuk sekarang.


Komentar

Postingan Populer