Berkabung, Lagi.
“...Karena tak semua gemerlap mampu menerangi. Tak semua pendar-pendar mampu memperindah langkahmu. Landaikan jemarimu kala kau lelah menari, maka tak sepersekian detik pun aku berharap untuk meregangkan genggaman.”
Ketika semua orang memiliki hak untuk bermimpi. Selayaknya mahasiswa baru yang bermimpi revolusi di siang bolong saat ospek dilakukan, sembari berteriak “Hidup Mahasiswa” dan seruan semacamnya.
Apa yang kita pelajari dari tragedi Kanjuruhan pada 1 Oktober tahun lalu?
Sebagian orang mengklaim sembari ngotot; “Pelajaran yang kita dapatkan hari ini dari peristiwa Kanjuruhan adalah kita yang tak pernah belajar”, lalu beberapa masih memperjuangkan keadilan untuk sanak saudara korban, beberapa yang lain memilih untuk menepi atas kebobrokan sepak bola hari ini. Memang tidak ada yang salah, semua berhak menentukan sikap masing-masing.
Pun juga terlalu naif ketika kita beranggapan bahwa sepak bola adalah alat pemersatu. Menjelma serupa ayat-ayat usang yang terus dikumandangkan ketika sepak bola mencapai titik mendidihnya, bahkan sampai merenggut nyawa para penggemarnya. Buktinya, sampai detik ini kompetisi sepak bola tetap ada, bak berlari di atas nisan para korban tragedi Kanjuruhan di waktu lalu.
Andai saja, orang-orang bertanya pada dirinya sendiri perihal empati, mengetuk pintu hatinya sekali lagi untuk sekedar bertasbih atas kejadian kelam, dan melihat dengan mata terbuka.
Andai saja, orang-orang berfikir lebih mendalam, memikirkan hal-hal yang semestinya dilakukan, hanya untuk sekedar refleksi, tak terkecuali dalam hal sepayah sepakbola, meskipun itu tak berarti banyak.
Andai saja, orang-orang hari ini melebur menjadi satu senyawa yang mengepalkan tangannya di udara, menggandeng siapapun di dekatnya dan kembali menyusun puing-puing yang telah hancur lebur.
Seandainya kala itu kita berbicara seolah semua hal baik-baik saja, dalam bahasa yang sama, di atas tanah tandus yang digemari oleh ribuan orang. Tanah yang memainkan emosi dalam waktu tak menentu, memposisikan diri kita sebagai pemain dan penggemar, kemenangan dan kekalahan, sore dan malam, hitam dan putih, kau dan aku, serta kehidupan dan kematian.
Aku bersepakat perihal aparat yang membunuh ratusan suporter waktu itu dengan rentetan senjatanya, panitia pelaksana yang bodoh, dan PSSI yang bobrok. Namun, atas kesepakatan itu, aku juga memiliki kemuakan terhadap diri kita masing-masing, dan barangkali aku juga bersepakat bahwa kita memiliki hak yang setara untuk sama-sama berbenah.
Singkatnya, tanah tandus yang menjelma sepak bola ini ingin kita jadikan seperti apa, bagaimana, dan untuk apa, itu kembali pada sikap kita masing-masing. Komersialisasi semakin menjamur, represifitas negara melalui aparatnya sudah menjadi ajang klarifikasi dan permohonan maaf, ditambah kita yang melulu berseteru atas nama fanatisme buta dan semcamnya. Lantas, jika demikian adanya, apa yang diharapkan lagi?


Komentar
Posting Komentar