13 Tahun Berdiri di Barisan : Sebuah Refleksi

Sepanjang perjalananku di tengah malam, melewati sepinya kota dan sejuknya udara yang belum tercemar polusi kendaraan-kendaraan berlalu-lalang. Seakan menjadi kemasan esensial untuk aku jadikan waktu berfikir perihal apapun yang menancap di benak pikiranku selama seharian penuh. Entah mengapa, aku adalah tipikal orang yang tersiksa oleh pikiran-pikiran semu dalam tempurung kepala sekecil ini. Sama sekali aku tak pernah berkehendak atas hal ini. Sumpah.

Sampai pada persimpangan jalan yang ditandai oleh lampu merah, aku mencoba membuka telepon genggam untuk mengecek jam di layar awal. Namun, yang kudapati pada layar telepon genggamku adalah puluhan pesan menumpuk dari grup perkumpulan suporter sepak bola. Kurang lebih, beberapa isi pesan tersebut secara substansial sama; “Merayakan 13 tahun perkumpulan di tribun utara Stadion Brawijaya, Kediri”.

Sontak aku melihat tanggal yang ikut tertera di layar itu, 19 November. Memang tak salah jika kawan-kawan di grup bergembira atas perayaan ke-13 ini, waktu yang tak singkat bagi lingkaran perkawanan. Betul. Lingkaran perkawanan yang kurang lebih memiliki kegilaan yang sama, mencintai sepak bola, betapapun ringkih dan sedikit reyot. Barangkali kita bisa bersepakat, memang begitulah keadaannya.

Dalam perjalanan itu, aku kembali mengingat memoar kecil yang pernah aku alami bersama lingkaran tersebut. Aku tergabung pada lingkaran itu sejak duduk di bangku SMP, umur yang rentan terhadap remaja ola-olo seperti diriku. Namun, bagaimanapun juga, sama sekali tidak ada yang dapat disalahkan dalam pencarian ke-diri-an itu sendiri. Begitulah adanya, selayaknya air yang mengalir dari dataran tinggi ke dataran yang lebih rendah. Iya. Mengalir.

Sampai mencapai titik mendidih bahwa aku benar-benar gila kepada sepakbola. Tanpa aku mengenal simpul-simpul yang ada di dalamnya, aku ikuti hasrat kegilaan tersebut. Mulai dari terpuruknya sepakbola yang kugemari, sampai pada kejayaan yang pernah menghinggapi. Lebur dalam dinamika kegilaan. Hingga pada fase tertentu, dengan carut marut keadaan hidup, dan hingar bingar berita sepakbola, aku terjerumus dalam kesadaran palsu.

Larut dalam identitas kultural seorang supporter memang cukup menarik, pun juga menyimpan stigma negatif jika dilihat oleh kacamata masyarakat umum; tukang rusuh, ribut, amoral, dan segala macam sebutan. Lantas, dalam kesadaran palsu itu, tepat pada saat chaos antar kelompok, terbesit dalam benak anganku selayaknya angin yang berhembus di pesisir pantai; hal apa yang membuat diriku sedemikian beringas ini? Apa yang aku perebutkan? Bukankah sepakbola tidak berbicara orang yang paling, namun ia berbicara perihal orang yang saling? Apa sebenarnya yang terjadi?

Bangga dengan gengsi, rivalitas, dan pengakuan posisi. Pada kenyataannya siapapun yang lari pada waktu itu, menjadi suatu keniscayaan mereka akan menjadi bahan bully-an. Lebih brengseknya lagi, media massa menjadi pemantik sumbu paling radiatif sesaat setelah ledekan itu terjadi. Lalu, mereka meraih untung dari sekadar notifikasi, endorse, kenaikan loader laman mereka, yang tak jarang memasang iklan PP judi bola. Brengsek bukan?

Sebuah hal yang sah-sah saja ketika mendukung tim sepakbola yang dicintai berlaga di atas lapangan hijau dengan skema fanatisme yang tertuang di sudut tribun. Namun, menjadi sebuah PR bersama, bahwa pada prakteknya fanatisme bukan lagi menjadi bahasa komprehensi, lebih daripada itu, fanatisme menjadi suatu pemahaman ekstrimisme dan pertarungan harga diri. Maka tak jarang fanatisme telah mengalahkan logika dan kemanusiaan.

Tak jarang kita mendengar untaian kalimat rasisme. Kendati secara hakikatnya, beberapa kalimat tersebut bukan termasuk rasisme. Namun, dari paradigma supporter sendiri, beberapa menyebut tim kebanggaan mereka ataupun nama lingkaran mereka adalah ras. Bagiku pribadi, hal tersebut justru lebih parah dari ras itu sendiri. Coba bayangkan, sepakbola dibangun di atas nisan-nisan supporter yang hilang nyawanya akibat sepakbola. Tidak usah dibayangkan, tragedi di 1 Oktober silam adalah wujud nyatanya. Apakah masih relevan kita memakai slogan “sepak bola adalah hiburan bagi seluruh kalangan”, “sepakbola adalah alat pemersatu, alat perjuangan, dsb”?

Selain fanatisme, ada beberapa hal yang sedikit patut kita jadikan fokus bersama. Sedikit perlu akal sehat untuk mengahadapi hal-hal tersebut. Ketika kita melihat sepakbola bukan hanya hiburan dan tontotan belaka, namun juga pergulatan politik, tak jarang kita melihat beberapa penggiringan opini pun juga beberapa upaya semacamnya. Sebenarnya, aku pribadi tak menghiraukan ideologi apa yang kalian bawa kedalam stadion, atau apapun itu. Hematku, pada era post-modern ini segala sesuatu dapat diperdebatkan.

Namun, seakan menjadi hal rentan ketika perbincangan ideologi dan politik melebur dengan sepakbola. Silang sengkarut kepentingan akan berperang pada aspek tersebut, niscaya. Ini menjadi hal penting. Sebenarnya, berulangkali aku mengingatkan hal ini pada sekelilingku, bahwa mencintai sepakbola di era industrialisasi ini tidak cukup hanya memakai hati, namun juga mengutamakan logika. Landasan dasarnya hanyalah kepedulian kita terhadap sepakbola, tim kesayangan.

Aku meyakini, tidak ada manusia yang rela untuk dijadikan sapi perah oleh manusia lain. Apalagi dalam klasifikasi antropologi sepakbola, supporter menjadi ujung senjata bagaimana industrialisasi sepakbola tidak terlampau menjijikkan. Maka dari itu, menurutku, pengetahuan adalah senjata utama bagaimana kita menyikapi dinamika sepakbola di era kapitalisme akut sedemikian rupa ini. Harapku, melalui ruang-ruang kecil penghuni tribun, aku ulangi sekali lagi, setidak-tidaknya kita memiliki kesadaran bahwa mencintai sepakbola tidak hanya membutuhkan hati, namun juga logika dan pengetahuan.

 

 

Demi masa, akar ini tak bergumam abadi. Karena tak terlalu penting bagiku untuk membesarkan akar ini. Namun, sungguh penting jika akar ini menjadi banyak. Hingga ia bergumam; bahwa aku ini berdikari.

 

 

Memang selayaknya kita mengakui bahwa sepakbola telah menjadi irisan dari kehidupan mayoritas manusia modern hari ini. Pada beberapa peristiwa, sepakbola selayaknya embun dini hari yang menanamkan benih kehidupan. Ia tumbuh menjadi apapun yang ia inginkan. Sampai pada titik bahwa sepakbola adalah hal konstruktif untuk membangun interkoneksi manusia meskipun tak lekang dari kusutnya peradaban. Selayaknya sajak-sajak waktu yang tertulis atau semerbak aroma keringat yang membasahi raga, kolase yang digunting dalam bingkai indah untuk menolak pudar.

Pada waktu yang kian dewasa, tak banyak orang mencoba melihat sepintas titik hitam di atas kain putih bak tabularasa. Hal yang dianggap biasa namun sama sekali tak pernah memiliki pangkal cerita tentang kebersamaan merawat olahraga yang dikenal banyak orang semenjak turun temurun dari tahun ke tahun, abad ke abad. Setiap kepingan yang darinya menyisakan hasil pun juga dengan takdir yang dipersatukan di dalam lapangan. Hal ini mungkin menjadi sepenggal bukti bahwa warisan bukan melulu hal konservatif, melainkan etos yang selayaknya dijaga.

Mungkin, kita sama-sama bisa bersepakat, melalui sepakbola kita bisa mengenal lebih dekat dan seringkali kita sama-sama merayakan perkawanan. Atau, dulunya saling bermusuhan dalam tempurung egosentrisme, mutakhirnya kita larut dalam romantisme yang nyata. Menjadi suatu hal lumrah, namun juga menakjubkan. Memang, demikianlah sepakbola dengan berjuta cinta, cita, cerita, dan segala tetek bengeknya.

 

 

 

Buon Compleanno.

Juang dan Asa untuk kalian yang menjaga kewarasan!

 

Komentar

Postingan Populer