Bincang Buku : PERANG YANG TIDAK AKAN KITA MENANGKAN

sumber : foto pribadi

 

 

 PERANG YANG TIDAK AKAN KITA MENANGKAN: Anarkisme & Sindikalisme dalam Pergerakan Kolonial hingga Revolusi Indonesia (1908-1948) adalah buku yang cukup menarik untuk dibaca. Pasalnya, buku ini menjabarkan tentang gerakan anarkisme yang ikut andil dalam masa perjuangan anti-kolonialisme di Indonesia (Hindia Belanda pada waktu itu). Ditulis oleh Bima Satria Putra, seorang pemikir muda dari Kalimantan Tengah, dan telah menyusun beberapa buku, salah satunya; Di Bawah Bendera Hitaam: Kumpulan Tulisan Anarkisme Hindia Belanda.

 Buku yang memiliki ketebalan 250 halaman ini diterbitkan oleh Pustaka Catut. Buku yang tersusun baik ketika ingin menelisik bagaimana dan sejak kapan gerakan anarkisme muncul. Pada lembaran awal buku tertulis “Fuck ISBN”, dan “Hak Cipta Bebas dan Merdeka”, pada barcode pun tertulis; “Pasar Adalah Penjara”, sebuah kata yang tidak mungkin terungkap dari para penerbit lain. Pun juga tertulis, pada halaman awal; “Untuk Tahanan Mayday di Yogyakarta”. Barangkali, buku ini juga bisa menjadi landasan untuk mengambil sikap tentang isu-isu anarkisme yang bermunculan di media sosial ketika terjadinya demonstrasi.

 Selain membahas tentang historiografi anarkisme pada masa Revolusi Indonesia, buku ini sedikit-banyak membahas tentang esensi perjuangan anarkisme, yang mungkin, sangat kontradiktif dengan pemahaman mayoritas masyarakat mengenai anarkisme. Tak dapat dipungkiri bahwa anarkisme perhari ini dimaknai secara serampangan dan sembrono akibat propaganda yang telah dilakukan dari dulu, dan buku ini akan membuka cakrawala tentang dinamika perjuangan Revolusi Indonesia yang tidak pernah diajarkan pada kurikulum pendidikan.

 

“Bagiku Individu itu adalah tujuan, dan bukan alat mencapai tujuan. Kebahagiaan manusia adalah tujuan dalam perkembangan seorang yang sempurna dan harmonis dengan manusia lain. Negara hanya alat. Dan individu tidak boleh diletakkan di bawah negara. Ini musik hidupku. Ini perjuanganku. Ini jalan tak ada ujung yang kutempuh.”

Mochtar Lubis – Jalan Tak Ada Ujung

 

 Pada bagian pertama dan kedua, buku ini akan mengupas tentang gerakan anarkisme dunia, namun tidak begitu komprehensif, hanya sekilas. Namun, pembahasan awal ini cukup dijadikan landasan untuk memahami bagian-bagian selanjutnya. Selain membahas tentang gerakan anarkisme dunia, pada bab ini juga membahas tentang Gerakan Anarkis Belanda, yang pada nantinya akan mempengaruhi tentang landasan ideologi perjuangan anti-kolonialisme di Hindia Belanda. Salah satunya adalah Multatuli, pseudonim dari Edward Douwes Dekker, seorang Belanda yang memiliki gagasan revolusioner tentang anti-kolonialisme di Hindia Belanda melalui karyanya yang berjudul “Max Havelaar”. Memang, gerakan anarkisme di Hindia Belanda terbilang memiliki karakter yang unik, dan terbilang signifikan jika dibandingkan pada saat pasca 1945, dan pada bab ini dijelaskan cukup komprehensif.

 Pada bab kedua dalam buku ini, penulis lebih menekankan pada dinamika politik di Hindia Belanda. Pasca buku Douwes Dekker marak di berbagai tanah jajahan, pun di Belanda sendiri, agaknya hal tersebut berimplikasi di Hindia Belanda. Melalui organisasi-organisasi yang muncul di Hindia Belanda, dan beberapa surat kabar yang telah terbit, gerakan anarkis mulai bermunculan. Selain membahas tentang dinamika politik di Asia pada waktu itu, dimulai dari sub-bab yang bertajuk Hadiah dari Nobel sampai pada bab selanjutnya penulis mengupas perihal kecerobohan pemaknaan anarkisme dan nihilisme. Pada bagian kedua sampai seterusnya ini telah dikupas cukup baik oleh penulis, sehingga, para pembaca akan mulai larut dalam pembahasannya; perdebatan politik, reproduksi pengetahuan yang melahirkan tokoh-tokoh pergerakan, hingga perbedaan pemikirannya.

 

“Karena saya tidak percaya kepada sistem yang melahirkan dan membesarkan penguasa yang begitu kejam seperti Stalin. Sama dengan tidak percaya kepada sistem yang melahirkan Hitler dan Mussolini. Dan sudah tentu, juga tidak percaya kepada sistem yang melahirkan Amangkurat yang dengan kejamnya membunuhi santri-santri.”

Umar Karam – Para Priyayi

 

 Buku ini mengemas perkembangan gerakan anarkisme cukup kompleks, pada bagian ketiga, misalkan, penulis menjelaskan secara komprehensif tentang perlawanan buruh, balasan dari pemerintah, lalu serangan balik para buruh yang berimplikasi menjadi perpecahan golongan marxis dan anarkis di Hindia Belanda pada waktu itu. Pembahasan yang saling berkesinambungan sampai bagian-bagian selanjutnya, seperti halnya proses pemberontakan 1926, dinamika rumit yang dikemas lumayan ringan oleh penulis sampai pada masa revolusi tiba. Sampai pada masa Revolusi Indonesai tiba, agaknya sejarah gerakan anarkis tidak pernah mulus, bahkan pada pasca 1945 gerakan anarkisme berusaha disingkirkan oleh pemegang otoritas.

 Pada bagian ketujuh, pada periode pasca 1945, gerakan anarkisme tidak memiliki panggung sama sekali, tidak semasif pada masa Hindia Belanda. Soekarno, selaku pemegang otoritas tertinggi pada waktu itu, sama sekali tidak menyediakan tempat untuk gerakan ini. Bahkan, ia menganggap bahwa gerakan anarkisme adalah sebuah penyelewengan ke arah perbuatan yang tidak pakai pikiran, pikiran cap mata gelap, dan perlunya dikoreksi secara habis-habisan.

 Pada catatan kaki nomor 318, penulis mengatakan; “Saya nyaris memilih “Menyebalkan” sebagai judul sub-bagian ini. Tapi saya nyaris tidak dapat mengatakan apapun. “-“ mewakili perasaan masygul ini.” –Golongan yang dicap sebagai trotskyis, anarkis, sindikalis dan siapapun baik sosialis (atau bukan), yang menentang (atau diduga menentang) pemerintahan Soekarno, menjadi bulan-bulanan pemerintah dan media setelah ditangkap dan dipenjara. Akibatnya, anarko-sindikalisme kemudian benar-benar menjadi istilah yang sangat negatif.-- Akibat hal tersebut, agaknya masyarakat mulai serampangan atas pemaknaan anarkisme tanpa meninjau kembali secara kritis terkait gerakan-gerakan dan cita-citanya. Dan pada bagian yang bertajuk “-“  penulis mengupas tuntas tentang gejolak pemahaman tersebut, sehingga, pembaca akan mengetahui kebenaran pemaknaan yang sebenarnya.

 Pada bagian terakhir, pasca dinamika kemerosotan pemaknaan anarkisme yang disalah artikan, penulis membahas tentang gerakan anarkisme di tahun-tahun jauh sesudahnya. Dengan menyebut “Gerakan Kedua”, dalam buku ini cukup jelas tentang masuknya gerakan anarkisme yang berdampingan dengan masuknya subkultur punk dan skinhead di Indonesia pada rezim orde baru, dinamika-dinamika yang dialami oleh generasi kedua sampai pada rezim orde baru tumbang telah dijelaskan oleh penulis di bagian terakhir ini.

 

“Anarkisme memiliki peluang yang baik di masa depan. Tetapi ketidakpatuhan intelektual dan kecenderungan menjauhi diskusi-diskusi teoritik yang serius, dan penekanan yang berlebihan terhadap aksi di lapangan, kadang membuat mereka menjadi tidak kalah reaksionernya dengan Fundamentalis Islam...”

“Sampai pada akhirnya, kita paham betul bahwa apa yang terjadi pada hari ini adalah hasil yang terbentuk dari simpul-simpul masa lalu. Terkadang terlihat semrawut dan mungkin, ada baiknya untuk membiarkannya kusut. Tapi terkadang, cukup jelas untuk diurai kembali...”

“Ujung simpul sejarah itu ada di saat ini, di saat anda membaca naskah ini, dan ia bakal merentang jauh dengan kemungkinan-kemungkinan tak terduga. Yang absurd. Dan saya dalam buku ini bukan untuk memberitahu akhir dari semua ini, selain sekedar untuk memberitahu bagaimana semuanya bermula.”

 

Bima Satria Putra – Perang Yang Tidak Akan Kita Menangkan

 

Komentar

Postingan Populer