Bincang Buku : NO LONGER HUMAN (Bukan Lagi Manusia)
![]() |
| sumber : foto pribadi |
Aku mulai muak terhadap hidup yang kian hari sangat membosankan dan menyebalkan. Di bawah lampu redup kontrakan, menghisap tembakau dan sesekali meneguk air kedamaian, sendirian. Jauh dari moralitas keagamaan yang tertanam sedari kecil, justru dekat dengan dosa (begitulah kurang lebihnya). Sampai pada titik paling bosan, sembari membuka handphone di genggaman, lalu, tanpa sengaja aku membuka postingan kawan yang menampilkan foto buku dan beberapa penggalan kata dalam buku tersebut. Pada buku yang difoto itu, tertulis biografi penulisnya, “Ozamu Dazai, yang beberapa kali mencoba melakukan percobaan bunuh diri”, nama yang lumayan asing bagiku, hampir tidak pernah kudengar dari manapun, dan juga kisah hidup penulis yang lumayan kontroversi bagiku setelah aku menelusurinya. Akhirnya, kuberanikan untuk menanyakan pada kawan; “Buku opo? Kok sangar penulis e, hehe”.
Singkat obrolan dengannya, agaknya sejalan dengan apa yang aku rasakan akhir-akhir ini, kuberanikan membeli buku yang ditunjukkannya. Berjudul “No Longer Human (Bukan Lagi Manusia)”, judul yang cukup menarik untuk aku telusuri (mungkin juga untuk mengisi waktu bosanku). Kendati kawanku tidak menganjurkanku untuk membaca buku ini ketika kondisi diri tidak stabil, barangkali, pada fase-fase mengalami kelinglungan filosofis seperti inilah waktu yang tepat untuk mengkonsumsi bacaan-bacaan yang demikian, untuk memenuhi kebutuhan nutrisi otak agar sedikit bergairah untuk berkata “ya” pada hidup esok hari sebab memiliki kesibukan membaca.
Setelah buku ini tiba di genggaman, aku pandangi sekali lagi, 143 halaman, buku yang tidak begitu tebal, batinku. Ditulis oleh Ozamu Dazai yang ternyata salah satu tokoh sastra di Jepang, dan buku yang ada di genggamanku ini adalah buku yang sudah diterjemahkan, Bagus Dwi Hananto, tertulis penerjemahnya. Pada lembaran awal tertulis; “Dilarang memperbanyak atau menggandakan sebagian atau keseluruhan buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit, kecuali kutipan untuk tujuan resensi, akademis, jurnalistik, advokasi dalam batas penggunaan wajar”, kata yang wajar /kerap muncul dari penerbit sebagai pengingat, tertanda; CV Vita Litteras, Yogyakarta.
“Agaknya aku pernah mendengar teori mengatakan bahwa manusia hidup untuk makan, tetapi aku belum pernah mendengar ada yang mengatakan manusia hidup untuk menghasilkan uang.”
Pada bagian prolog, mungkin, pembaca akan mulai sedikit mengernyitkan dahinya (termasuk aku). Dimulai dari cerita penulis menceritakan foto tiga lelaki dalam tiga fase; saat kecil, remaja, dan dewasa. Pada bagian ini, selain membaca judul, pembaca akan diperkuat keyakinan atas isi buku ini; pandangan yang nihilistik. Dari sepenggal cerita ketiga foto, penulis menampilkan fase kehidupan seorang yang ada di dalam foto tersebut. Tiga foto lelaki tampan, jika dilihat pada masing-masing ceritanya, memiliki tampang yang mengerikan; apalagi sorotan mata yang mengekspresikan kekosongan. Oba Yozo, nama seorang lelaki dalam foto tersebut. Terlahir di keluarga terpunya, secara materi tidak mengalami kekurangan sedikitpun, kasih sayang yang tercukupi dari keluarganya, agaknya tidak menjadikan Yozo sebagai manusia umumnya.
Pada bagian pertama, cerita Yozo kecil begitu muskil jika dibandingkan dengan anak kecil pada umumnya, sebuah pandangan yang amat kosong. Barangkali, perhari ini hal-hal tersebut tidak dianggap aneh/mengerikan/hal-hal yang memiliki tendensi keburukan. Sejalan dengan klaim utama filsafat eksistensialisme, bahwa eksistensi (keberadaan) adalah suatu hal lebih mendasar jika dibandingkan dengan esensi (kodrat). Yozo yang tak pernah merasakan lapar, meskipun sakit-sakitan, sama sekali ia tidak tertarik pada sarung bantal beserta kasurnya, tak mengerti arti kebahagiaan, adalah sebuah bentuk kritik penulis, bahwa pandangan dunia perhari ini tak memiliki nilai yang menarik. Sebuah pandangan nihilistik yang sangat signifikan jika melihat/merasakan keadaan dunia saat ini.
Bagian kedua, cerita Yozo berlanjut ketika ia menginjak masa remaja, pergi di suatu kota yang asing baginya untuk mengenyam pendidikan. Pada bagian ini, Yozo mulai mengenal beberapa kawan di sekolahnya, dan juga mulai mengenal dunia gelap; alkohol, pelacur. Ia menganggap bahwa minuman, tembakau, pelacur adalah sarana yang begitu cocok untuk menghilangkan ketakutannya pada manusia. Yozo adalah seorang yang humoris, konyol, jika bersama kawan-kawan atau orang lain. Hal tersebut adalah suatu alternatif Yozo untuk mengelabuhi ketakutan pada dirinya sendiri dan orang lain. Terlihat bahagia ketika mencoba untuk menghibur kawan-kawannya, agaknya tidak menjadikan Yozo manusia yang benar-benar bahagia. Untuk meluapkan apa yang ia rasakan, seringkali Yozo menampilkan bakat lukisnya, sampai pada lukisannya pernah diapresiasi oleh beberapa perempuan yang ia kenali.
Untuk menjadi Yozo memang sangatlah sulit; menjalani kehidupan yang absurd di tengah-tengah manusia yang acapkali menganggunya sehingga ia mengalami ketakutan tersendiri. Entah, aku menyebut hidup Yozo sebagai depresi atau kekosongan yang bermakna. Sialnya, aku terlarut dalam cerita yang disuguhkan oleh penulis, dan beberapa perkataan kawanku untuk tidak menyarankan membaca buku ini dalam keadaan kalut. Hal tersebut benar aku rasakan ketika sampai pada cerita bahwa untuk sedikit menikmati hidup atau menghindar dari hingar bingar manusia, acapkali Yozo pergi ke suatu tempat huru-hara; alkohol dan pelacur. Apalagi, ketika ia mengenal kawan di tempatnya mengenyam pendidikan tinggi, ia pernah tergabung dalam suatu gerakan kiri di Jepang pada waktu itu, mendiskusikan perkara hidup-mati dengan ketegangan, mempelajari teori-teori tokoh kiri, yang menurutnya adalah suatu kekonyolan tersendiri; membicarakan orang terbuang, tertindas, dan sebagainya.
Sial, batinku. Selayaknya orang mengalami post series depression, bagiku cerita-cerita yang dipaparkan oleh penulis melalui tokoh Yozo ini sangat akurat dengan keadaan perhari ini. Orang-orang membicarakan penindasan, berusaha memunculkan suatu solusi atas ketertindasan itu, namun pada kenyataannya orang-orang tersebut justru terjerembab pada sistem yang sama. Selayaknya berusaha memadamkan api di satu titik rumah terbakar, namun, memunculkan api-api di titik lain yang membakar rumah lebih banyak lagi. Sebuah kritik atas ideologi (baca: marxisme) yang dikemas melalui cerita Yozo, adalah peristiwa yang tak pernah dievaluasi sedari dulu sampai detik ini. Seakan berusaha menggantikan orang-orang penindas melalui solusi sistem yang menurutnya baik, justru memunculkan sistem yang tak jauh berbeda dari sstem yang mereka runtuhkan.
“Kini aku tidak merasakan kebahagiaan maupun ketidakbahagiaan...”
“Aku kini benar-benar berhenti jadi manusia.”
Pada bagian terakhir; ketiga, bercerita tentang Yozo yang mulai lebih tertarik pada wanita dan alkohol. Hampir pada setiap harinya ia terus meneguk alkhol, padahal, riwayat kesakitannya sedari kecil belum membaik. Setelah terlibat dalam gerakan kiri di Jepang, ia mulai lebih muak terhadap hal keduniawian, dan sama sekali telah kehilangan makna hidup secara seutuhnya. Kehidupan hina, seperti itulah penulis menyebutnya. Keterlibatan pada gerakan kiri, membuahkan hasil bagi Yozo sampai menghasilkan sedikit uang untuk membeli alkohol dan bermain bersama para wanita. Kendati akhir cerita Yozo mendengar kabar bahwa ayahnya meninggal, dan ia mulai menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa, sebelumnya, ia kerap menulis di majalah anak, majalah porno, dengan nama samaran yang menurutnya juga konyol. Beberapa tulisan eksistensial juga ia tulis, salah satu penggalan tulisan tersebut adalah :
“Ada yang mengejar Kemuliaan Dunia;
Ada yang mengejar Surga Nabi;
Ah, ambillah yang di depan mata, lepaskan iming-iming,
Atau dengarlah genderang nun jauh!
Dan Pasu terbalik yang kita sebut Langit
Di bawahnya berjalaran hidup dan binasa kita
Jangan acungkan tangan ke arahnya meminta uluran –karena ia
Beralun tanpa daya tak ubahnya aku dan dirimu.”
Suatu pemaknaan hidup yang mungkin dianggap sebagian orang adalah aneh, namun, sebenarnya cerita-cerita yang ditampilkan oleh penulis adalah beberapa kritik yang sedikit menampar manusia perhari ini. Penggalan cerita kecil sampai dewasanya tokoh Yozo ini adalah sebuah perjalanan hidup yang barangkali juga menjadi cerminan sebagian manusia saat ini. Kasih sayang orang tua yang hanya berupa materi pun tidak berarti bagi sebagian anak yang berharap kehadiran orang tuanya. Selayaknya Yozo, sedari kecil menganggap ayahnya adalah tokoh familiar yang tidak pernah enyah dalam hati, harapan-harapan untuk terus meneruskan hidup bersama yang lain adalah sebuah keniscayaan. Maka dari itu, sewajarnya kita sebagai umat manusia mengerti dan memahami keadaan-keadaan orang terdekat kita, bahwa, betapapun ancaman hidup kian merajalela; otoritas negara beserta instrumennya, arus globalisasi, dan beberapa kapitalisme yang jahat, setidaknya, kita sama-sama bersepakat berkata “ya” pada hidup.
Saat ini, karya yang berjudul “No Longer Human” dan ditulis oleh Ozamu Dazai ini dinobatkan menjadi sastra klasi Jepang. Beberapa mengatakan, bahwa cerita yang ada dalam tulisan tersebut adalah Dazai sendiri. “No Longer Human” adalah karya yang terakhir baginya sebelum ia dinyatakan meninggal. Dazai merupakan cerminan hidup, bahwa manusia memang berteman karib dengan banyak penderitaan dan kata sifat lainnya; kesedihan, kemalangan, keterpurukan.



Komentar
Posting Komentar