Ana Dina Ana Upa : Laku Hidup Tulus Menjaga Apa Yang Seharusnya Dijaga

Tulus, masih tetap sama dengan jalan yang ia tempuh, dengan bermodalkan pengetahuan secukupnya, namun ia melek terhadap apapun yang menjadi suatu kemusykilan dalam hidupnya yang ada di desa. Meskipun dikenal dengan pola hidup yang sedikit berbeda oleh mayoritas masyarakat desa, agaknya pengetahuan yang ia yakini tidak serta merta tanpa landasan, hal tersebut berangkat dari pengalaman hidupnya yang ia evaluasi dari hari ke hari. Pada usianya yang sudah tidak muda lagi, ia masih melaksanakan tanggung jawabnya yang sedari dulu ia tekuni, yaitu bertani. Bermodalkan tanah warisan dari orang tuanya, ia menganggap bahwa tanah yang ia garap perhari ini adalah bagian dari perjalanan hidupnya dari kecil. Untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dengan keluarga, sebagai kepala keluarga, ia mengandalkan hasil panen dari tanah garapannya sendiri. Dengan bermodal tanah satu petak, ia mampu memanen hasil kerjanya tiga sampai empat kali dalam jangka satu tahun. 

Konon, ketika Tulus duduk di bangku Sekolah Rakyat (SR), orang tuanya termasuk dalam golongan orang-orang yang makmur, namun, kemakmuran itu kian menghilang dengan seiring bertambahnya umur Tulus. Dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, tahun ke tahun, kemakmuran yang dinilai dari luasnya tanah garapan orang tuanya kian habis untuk mencukupi kebutuhan makan sehari-harinya, biaya hidup yang kian melonjak, dan masuknya para setan tanah di desa tempat Tulus hidup. Ada hal yang paling Tulus ingat, yaitu ketika Bapaknya menjual tanah untuk kebutuhan pendidikan Tulus pasca lulus dari SR. Tulus dikirim ke salah satu pesantren ternama di Jawa Timur, Jombang tepatnya, yaitu Pondok Pesantren Tebut Ireng. Demi biaya agar Tulus mendapatkan ilmu agama yang ia terapkan kelak pada kehidupan, tanah sepetak direlakan terjual murah. Namun, lambat laun tanah itu kian habis terjual untuk kebutuhan hidup di pesantren, Tulus memutuskan untuk kembali ke desanya, tepatnya di Kabupaten Trenggalek. 

Seusai mengenyam pendidikan pesantren kurang lebih satu tahun, Tulus ikut bertani bapaknya di desa setiap hari. Hal itu yang akan menjadikan modal Tulus untuk menyambung hidupnya di desa sampai dewasa ini. Banyak ilmu kehidupan yang Tulus petik dari pola asuh orang tuanya yang sederhana, mulai dari nriman dengan apapun yang ada dikala senang maupun susah, sampai dengan cara bertani dengan menghormati alam yang menghidupi petani itu sendiri, lalu menerapkan sistem pertanian yang telah diajarkan oleh para leluhurnya dulu. Melalui pola asuh yang demikian, Tulus benar-benar memegang teguh apa yang sudah diajarkan oleh bapaknya ketika bertani;

sumber : @potolawas
 

"Wong tani kuwi ora mburu untung tok, Le. Ning, pie carane awake dewe iso ngrumat bumi sing maringi panenan saben musim."(Bertani tidak hanya mengejar untung saja, Nak. Namun, juga mengedepankan bagaimana cara kita bisa merawat bumi yang memberikan kita hasil panen tiap musimnya). Sedikit wejangan dari Bapaknya, Tulus mulai memikirkan apa yang telah dikatakan sang Bapak, namun, Tulus belum berani untuk menimpal balik pertanyaan kepada sang Bapak, hanya anggukan dan sedikit balasan yang ia utarakan, "Nggih pak" (iya pak).

Suatu ketika, pertanyaan demi pertanyaan di benak Tulus mulai terjawab seiring berjalannya waktu. Saat petani menggarap lahannya setiap hari di sawah maupun perkebunannya masing-masing, termasuk Tulus. Hal tersebut kian diawasi oleh Tulus setiap harinya. Dengan diam-diam, Tulus mengamati sekelilingnya hari demi hari saat ketika dia hengkang dari pesantren. Bahkan, sampai dewasa ini hal tersebut masih giat dilakukan oleh Tulus. Lagi-lagi, pola evaluasi hidup yang ia terapkan patut diapresiasi. 

Beberapa waktu lalu, atau mungkin akhir-akhir ini, Tulus dan kawan-kawan petani yang tergabung dalam kelompok tani mulai resah sebab hasil panen dan biaya produksi sangat tidak sebanding. Pada saat Tulus bertemu dengan salah satu petani, saat siang hari di suatu gubuk reyot tempat para petani istirahat untuk sejenak menyandarkan punggung, Tulus membuka obrolan: 

sumber : @historia

"Lah yo to, Jo. Jenenge wong tani iki tahun kok koyok di plosoro tenan, jenenge panen pari sing wingenane hasile kok ora nutup iki pie?" (Namanya orang bertani tahun ini kok seperti dibuat sengsara ya, Jo. Hasil panen padi kemarin hasilnya kok tidak sebanding sama sekali, terus ini bagaimana?) 

Dengan wajah lesu, petani yang menyandarkan punggung di tiang bambu gubuk reyot tersebut ikut terpancing dengan obrolan menarik si Tulus. Sembari memakan ketela yang diantar oleh istrinya pagi tadi ia menjawab: 

"Lah arep pie neh mbah? Ancen alame iki dino koyok ngene. Biyen kae, sawah sak petak iki sampek nyucuk 5 kwintal, saiki mung iso oleh 4 kwintal tok, kuwi yo kualitase ra koyok biyen" (Mau gimana lagi mbah? Memang keadaan alam perhari ini demikian. Dulunya, hasil panen padi bisa mendapatkan banyak, sawah sepetak ini bisa mencapai hasil 5 kwintal, sekarang hanya bisa 4 kwintal, itu pun kualitas tidak seperti yang dulu-dulu.) 

Larut pada obrolan semacam itu, mereka berdua seakan menikmati kekalahan, namun tetap dengan rasa syukur. Lalu, jam mulai menginjak di angka 2 siang, lantas mereka melanjutkan pekerjaannya untuk membajak sawah dengan cangkul kebanggaannya. 

Pada saat sore tiba, mereka segera bergegas untuk pulang, dengan wajah yang terlihat kusam akibat seharian mencangkul tanah garapannya, mereka berjalan menuju rumah seakan tanpa beban dan masalah sedikitpun. Lalu, pada saat tiba di rumah, Tulus segera membersihkan diri, dan pergi berkumpul dengan keluarga di ruang seperti biasanya, yaitu di meja makan. Sontak, istrinya membuka pembicaraan dengan kata yang lembut: 

"Pripun pak olehe macul niki wau?" (Bagaimana pak mencangkul ini tadi?)

"Yo wis koyo biasane, bu. Iki mau oleh konco karo si Paijo." (Ya seperti biasa, bu. Ini tadi dapat teman sama si Paijo.) Tulus menjawab dengan keadaan datar. 

Obrolan basa-basi terus berlanjut, sampai pada istri si Tulus menanyakan keadaan pertanian akhir-akhir ini. Hal tersebut dilatar belakangi oleh hasil panen yang didapat kian hari kian berkurang, dan kebutuhan anak-anak semakin bertambah; 

"Wereng sak piturute ten sabin nopo nggih katah to pak sakniki? Kok hasil panen ketingale mundak tahun mundak nyusut. Wingenane, jatah pupuk subsidi nggih pun kulo pundhut ten gene Mbah Sanimin, namung angsal setengah setel." (Hama dan sejenisnya di sawah banyak sekarang banyak ya pak? Kok hasil panen kelihatannya setiap tahun semakin berkurang. Kemarin lusa, pupuk subsidi sudah saya ambil di rumah Mbah Sanimin, hanya dapat setengah setel (setengah karung urea dan setengahnya lagi phonska))

Tetap dengan keadaan datar, Tulus berbagi cerita dengan istrinya di meja makan; 

"Wereng saben tahun sakjane yo podo wae, buk. Petani sambatane yo podo wae, hasil panen mundak tahun malah nyusut. Pupuk subsidi saking pemerintah yo enek kendala werno-werno. Aku kok malih kelingan bapak biyen nek muruk'i. Nalikane aku boyongan tekan pondok biyen, ewang-ewang bapak ndek sawah, wereng sak pinunggale kuwi yo wis enek sakjane. Ning, hasil panen yo iso diomong stabil. Padahal ngono kae bapak gawe cara tani wong kuno lo, buk." (Wereng tiap tahun sebenarnya tetap sama, bu. Keluh kesah petani ya sama; hasil panen tiap tahun semakin berkurang. Pupuk subsidi dari pemerintah sekarang ya ada kendala bermacam-macam. Seketika, aku kok teringat dengan bapak dulu ketika mengajariku. Ketika aku pulang dari pesantren dulu aku kerap membantu bapak di sawah, wereng dan sejenisnya itu sebenarnya sudah ada. Hanya saja, hasil panen pada waktu itu bisa dikatakan tetap stabil. Padahal, cara bertani bapak masih memakai sitem pertanian tradisional)

Pada keesokan harinya di sawah, Tulus masih memikirkan apa yang telah diajarkan oleh bapaknya. Kebetulan, pada saat itu juga, ada beberapa petani yang mulai menggarap sawahnya lagi sehabis panen. Mulai dari mencangkul tanah, menyiapkan beberapa benih, dan lainnya membersihkan lahan yang masih kotor sehabis panen raya. Seperti biasa, di waktu jam istirahat, tepatnya siang hari, Tulus berkumpul dengan beberapa petani. Melanjutkan obrolannya dengan Paijo kemarin mengenai hasil panen yang kurang memuaskan, bersamaan dengan Tulus mengingat apa yang telah diajarkan oleh bapaknya perihal pertanian, Tulus menawarkan suatu solusi untuk menghadapi permasalahan para petani yang ada;

"Lur, sik kelingan carane mbah-mbah biyen naliko bertani to? Wiwit tekan mbah-mbah biyen gawe ilmu titen pranata mangsa, sampek tekan pupuk sing digawe ora mambu bahan kimia, ning, hasil panen olehe yo stabil. Ayo dipikir lur. Nek carane wong tani koyok ngene terus, adewe iso rugi akeh, utang numpuk digawe nyukupi pupuk non-subsidi mergo pupuk subsidi terbatas." (Masih ingat cara para leluhur bertani kan? Mulai dari leluhur dulunya memakai ilmu pranata mangsa, sampai pada pupuk yang dibuat sendiri, tidak mengandung bahan kimia, pun, hasil yang didapat juga stabil. Ayo mulai memikirkan itu. Jikalau terus seperti ini, kita bisa rugi banyak, hutang menumpuk untuk mencukupi kebutuhan pupuk, kita beli pupuk non-subsidi karena pupuk subsidi sangat terbatas.)

"Masuk akal kuwi. Kebutuhan mundak akeh, ning hasil panen ora sepadan. Utang numpuk mung digawe nyukupi pupuk, urung butuh liyo-liyone. Kelompok tani wis wayahe mandiri pupuk karo pestisida. Wis ora wayahe nuruti wong gede sing bakulan pupuk. Sambat menyang pemerintah yo ora enek perubahan. Sesuk wayah kumpul Gabungan Kelompok Tani, usul bareng-bareng yo. Iki demi sejahterane poro tani gawe nyukupi kebutuhan keluarga. " (Masuk akal itu. Kebutuhan semakin banyak, namun hasil panen tidak sepadan. Hutang menumpuk hanya dipakai untuk mencukupi kebutuhan pupuk, belum kebutuhan lainnya. Saatnya kelompok tani untuk mandiri pupuk dan pestisida. Sudah tidak saatnya nurut sama orang besar yang menjual pupuk kimia. Mengeluh kepada pemerintah juga tidak ada perubahan. Besok, ketika kumpul Gabungan Kelompok Tani, mengusulkan bersama ya. Ini juga demi kesejahteraan para petani untuk mencukupi kebutuhan keluarga) 

Mendengar jawaban itu dari Paijo, dan didengarkan oleh para petani yang berkumpul, sontak Tulus mengiyakan ajakan itu. Dibenak Tulus juga memiliki harapan bahwa kesejahteraan petani itu harus diwujudkan. Sebab, ketika tidak ada petani, krisis pangan yang mengancam akan memunculkan masalah yang lebih lengkap, contohnya kelaparan. Pun, ilmu-ilmu yang diajarkan oleh bapaknya dulu bisa dijadikan modal untuk mengajak para petani agar mandiri pada sektor pupuk ataupun pestisida, pun juga dengan obat-obatan lainnya. Tidak bisa dipungkiri, ketika jatah pupuk subsidi dibilang kurang untuk kebutuhan tanaman dan lahannya, Tulus kerap memakai cara tradisional tersebut untuk jalan alternatif agar tidak terlalu mengalami kerugian. Hal yang dijaga Tulus dari tahun ke tahun, sejak dia pulang dari pesantren dibimbing oleh bapaknya kini bisa bermanfaat bagi petani desa kelahirannya di Trenggalek, Jawa Timur.








Nganjuk, 21 April 2023.

SAMPAI MARHAEN MENANG!

Komentar

Postingan Populer