Resensi Buku "Aku Bertanya Maka Aku Ada"
Judul Buku : Aku Bertanya Maka Aku Ada
Pengarang : Fahruddin Faiz
Tebal Buku : 182 halaman
Penerbit : Qalam
Tahun Terbit : 2004
Resentator : Bahari
Buku ini dianjurkan untuk para pembaca yang sedang terombang-ambing dalam absurdnya kehidupan. Sebab, isi dari buku ini sedikit-banyak berupaya untuk menyelami esensi ataupun substansi permasalahan-permasalah kehidupan mayoritas manusia perhari ini. Ada beberapa kutipan yang cukup menampar bagi manusia yang hidupnya dipenuhi oleh rasa sok, salah satu kutipan itu berbunyi: “Banyak di antara kita yang tidak tahu apa itu keindahan atau kebajikan, tetapi mereka menganggap telah tahu, padahal sebenarnya tidak tahu apa-apa; sementara saya, kalau tidak tahu apa-apa tidak akan pernah merasa sudah tahu. Maka kelihatannya saya sedikit lebih bijaksana dibandingkan merka, sejauh saya tidak pernah membayangkan bahwa saya sudah tahu tentang sesuatu yang saya sama sekali tidak tahu”. “Siapakah saya ? Mengapa saya ada? Apa bedanya saya dengan yang lain? Untuk apa saya hidup? Bagaimana saya harus hidup? Dari mana asalku? Kemana nantinya tujuanku? Apa yang harus saya lakukan dan apa yang jangan saya lakukan? Sudah tepatkah yang saya lakukan selama ini?”.
Demikianlah kutipan yang diambil pada buku yang berjudul Aku Bertanya Maka Aku Ada. Berkutat pada kutipan itu, jelas, sudah selayaknya kita meraba-raba apa isi dari buku itu. Buku yang dilihat dari sampulnya, terdapat seseorang yang memperagakan tokoh pantomim. Namun, siapa sangka, dari buku yang bertemakan filsafat tersebut, seseorang menjadi lebih bisa merasakan hidupnya dari jalan ke jalan, barangkali, juga lebih bisa bijaksana menyikapi hidup yang perhari ini, mungkin, dirasa sangat brutal.
Pada bab-bab awal, penulis sedikit-banyak telah menggiring pembaca agar lebih radikal untuk menyikapi hidup. Acapkali, kita, yang mengaku telah hidup dan mengerti hidup, sebenarnya, sama sekali tidak tahu menahu bagaimana menjalani hidup dan merasai hidup itu sendiri. Penulis menyuguhkan buah pikirannya tentang bagaimana kita bisa memaknai hidup seperti kita memaknai makna itu sendiri. Pada bab awal tersebut, penulis juga sedikit-banyak membahas bagaimana filsafat bisa menarik untuk siapapun yang berusaha mengenal dunia filsafat. Pun, ketika kita membicarakan perihal filsafat, tidak bisa kita pungkiri, stigma yang tertanam pada masyarakat luas kurang menarik. Sebab, filsafat itu sendiri acapkali dirasa kurang bermanfaat dan sama sekali tidak ada jluntrungnya.
Untuk bisa memaknai hidup dan mengetahui bagaimana dinamika hidup sampai perhari ini, alat yang manjur adalah dengan berfilsafat. Dengan metode-metode yang telah dipaparkan penulis, kita sama-sama sadar, bahwa untuk menjalani hidup agar menuju titik bijaksana juga memerlukan berbagai metode, antara lain dengan satu refleksi rasional yang tersistematis dan mencapai titik kebenaran. Contoh, yang dipaparkan pada isi buku tersebut, ada beberapa kutipan perkataan para filsuf yang menyimpang jikalau ditelaah dengan logika yang dirasa kurang tepat. Seperti perkataan Thales, bahwa alam semesta dibuat dari bahan baku air, atau Thomas Hobbes yang mengatakan bahwa sifat dasar manusia itu adalah saling memangsa, lalu David Hume yang menyatakan bahwa segala hal metafisika-agama dan yang semacamnya itu hanya omong kosong hasil konstruksi gagasan manusia, lalu Nietzsche yang pernah berteriak lantang “Tuhan sudah mati”, pun seorang Marx yang menyatakan bahwa agama itu candu bagi masyarakat. Pandangan-pandangan yang dikira sesat oleh masyarakat luas, dan bisa memicu pertikaian.
Namun, barangkali, jika perkataan/pernyataan yang dirasa aneh dan sesatpun, jika dirasai dengan berfilsafat bisa menjadi suatu hal yang lebih masuk akal. Dan harapan penulis, setelah pembaca telah selesai membaca buku tersebut menjadi manusia secara totalitas, yang tidak mudah untuk menyalahkan perkataan dari orang lain, yang mungkin, bersifat kontradiktif dengan apa yang ada di isi kepalanya. Pun, jika pembaca berkenan berusaha untuk menelaah kata demi kata yang tertuang di dalam buku tersebut, barangkali, juga bisa menghasilkan produk pikiran yang lebih relevan pada hari ini. Dan, jika telah mencapai itu, pembaca telah menjadi seorang filsuf yang disebut di dalam buku itu, filsuf bagi dirinya sendiri dan juga mungkin, bisa jadi, filsuf bagi khalayak orang banyak.
Pada bab pertengahan-terakhir, penulis berusaha memaparkan bagaimana filsafat menjelma sebagai alat yang sangat kompeten untuk menyelami kehidupan yang dirasa absurd ini. Berangkat dari keragaman yang telah dicetuskan oleh para filsuf terdahulu, dan sedikit-banyak telah dijelaskan oleh penulis, mulai dari keragaman pandangan seorang filsuf yang pada umumnya tidak sejalan dengan keyakinan mayoritas, yang berawal dari konteks kehidupan sang fiilsuf itu sendiri, baik konteks sosial, psikologis, maupun sejarah hidup seorang filsuf tersebut, para pembaca bisa memilah, bahwa, keberagaman sudut pandang terhadap hidup yang berbagai macam adalah sebuah keniscayaan.
Setelah memilah, penulis berharap, barangkali, pembaca bisa lebih bijaksana lagi untuk memaknai makna hidup. Analogi sederhananya, seseorang untuk terus melanjutkan hidup dengan tuntutan-tuntutan zaman seperti kemajuan teknologi, maraknya industri, pasti Ia telah menyiapkan alat-alat untuk menghadapinya agar tidak tenggelam ditelan oleh zaman itu sendiri. Ketika seseorang ingin merokok, dia mempunyai alat untuk menyulut rokoknya agar berfungsi secara maksimal, yaitu korek yang bisa menghasilkan api. Pun, ketika seseorang ingin mencari rumput untuk memberi makan ternaknya, ia telah mempunyai alat yang bernama arit/sabit untuk memotongi rumput tersebut, dan lain sebagainya.
Untuk memilah cara pandang filsuf memaknai hidup, pasti, kita sama-sama terheran, bagaimana kita bisa mengkonsumsi hasil pikiran-pikiran para filsuf yang notabene bersifat kontrakdiktif dengan apa yang telah kita yakini selama ini, dan tidak bisa kita pungkiri, kebanyakan perkataan-perkataan tersebut tidak sejalan dengan apa yang telah kita pelajari di agama. Namun, penulis berusaha membedah, bagaimana peran itu bisa menjadi maksimal untuk hajat pembaca agar bisa lebih memaknai hidup. Ada beberapa bagian yang terkandung dalam buku tersebut, yang mungkin, bisa ktia terima dengan akal yang sementara bersifat alakadarnya ini, yaitu; “dari berbagai pandangan tersebut secara umum dapat dikatakan bahwa meskipun ada pandangan yang miring dari berbagai kalangan beragama terhadap filsfat, para filsuf dari kalangan beragama sendiri ternyata banyak yang berpandangan bahwa antara agama dan filsafat itu tidak bertentangan”.
Ketidakbertentangan filsafat dan agama ini mudahnya bisa dilihat dari misi keduanya untuk menunjukkan kebenaran kepada manusia, meskipun jalurnya berbeda. Agama ingin menunjukkan kebenaran pada manusia melalui jalur otoritas yang dipandang lebih tinggi dari manusia, baik Tuhan maupun kitab suci. Sementara filsfat ingin menuntun manusia ke dalam kebenaran dengan tuntunan pemakaian intelejensi yang dimilikinya secara optimal. Pun, juga tidak bisa dipungkiri ketika manusia itu memiliki rasa ingin tahu dan ingin mendapatkan kejelasan tentang berbagai hal, dan pada dasarnya itu adalah fitrah manusia juga.
Jadi, buku ini adalah rekomendasi bagi siapapun calon pembaca, agar lebih bisa merasakan hidup, mengetahui hidup, dan memaknai hidup itu sendiri. Dengan alat yang bernama filsafat, harapan penulis, pembaca lebih bisa memilah apa yang menjadi kebutuhan hidup selanjutnya, pun juga dengan alat yang bernama filsafat ini, kelak, pembaca bisa merumuskan konsep-konsep yang meneguhkan apa-apa saja yang sebelumnya telah dipercayai tanpa landasan yang komprehensif. Ketersesatan dalam filsafat juga tidak menjadikan hidup kita menjadi buruk, justru, menjadikan hidup kita penuh dengan berbagai warna, makna, dan juga seni. Pada dasarnya, filsafat juga mencintai kebijaksaan, dan sebagaimana peran filsafat, menjadikan kita yang telah tersesat lebih bisa menempatkan kepandaian untuk menempatkan diri, bertutur, dan bersikap secara tepat, tidak berada di porsi kurang ataupun lebih.
Selamat membaca. TABIK !



Komentar
Posting Komentar