Langsung ke konten utama
Relasi Ilmu Pengetahuan dan Nafas Modernisasi Abu-Abu
Dewasa ini, sebagian, atau mungkin
seluruh umat manusia diambang kepiluan yang diakibatkan oleh kemajuan ilmu
pengetahuan. Pun, ketika berbicara perihal kemajuan lainnya, yang diakibatkan
dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan, contoh perkembangan teknologi,
sehingga mengakibatkan krisis iklim karena ritual eksploitasi terhadap alam
terus menerus dilakukan, atau hilangnya moralitas dan krisis identitas yang barangkali
diakibatkan oleh masifnya pemakaian teknologi gawai/gadget pada anak-anak,
sehingga mengakibatkan tergerusnya moralitas pada anak bangsa, terutama di
Indonesia itu sendiri.
Tidak bisa dipungkiri,
kemajuan/perkembangan yang ada sampai perhari ini adalah hasil dari
perkembangan ilmu pengetahuan, yang mana, barangkali, ilmu pengetahuan dari
zaman ke zaman tidak lain adalah sebagai alternatif menuju kesejahteraan hidup
seluruh umat manusia. Lalu, jika dilihat dari sisi historis, umat manusia pada
saat abad pencerahan, yang ditandai dengan adanya Revolusi Ilmiah dan
Renaissans, telah berupaya untuk menghilangkan nilai-nilai dogmatisme dan juga
peran otoritas keagamaan yang menindas, dan perhari ini, apakah sudah berada di
puncak cita-cita umat manusia sampai sejauh ini?
Kehadiran teknologi dan globalisasi
di masyarakat modern bukan berarti tidak memiliki landasan dasar yang jelas.
Masyarakat industri dan kapitalisme, perdagangan bebas dan revolusi teknologi,
kelaparan dan keterasingan, serta permasalahan umat manusia pada zaman modern
ini, adalah sebuah proyeksi dari abad pencerahan. Abad ini merupakan
pemberontakan terhadap tradisi yang dirasa telah membelenggu umat manusia pada
waktu itu. Di awali melalui tokoh yang bernama Rene Descartes sampai Immanuel
Kant, yang dimulai dengan Revolusi ilmiah, Renaissans, Aufklarung, Revolusi
industri, Kolonialisme, Imperialisme, dan pada akhirnya sampai pada titik
mutakhirnya, yaitu Globalisasi.
Lalu, ada beberapa pertanyaan yang
muncul untuk mengkritisi seluruh kemajuan itu sendiri, apakah kemajuan yang
bisa dikatakan semakin canggih berhak dalam menentukan seluruh hidup umat
manusia modern? Apakah umat manusia rela dan bersedia untuk menyerahkan arah
hidupnya menuju tatanan yang lebih baik melalui tawaran-tawaran kemajuan yang
bersifat instrumental? Akan tetapi, pada dasarnya, kemajuan pada berbagai lini
merupakan cita-cita yang mengejawantah menjadi alat, seperti teknologi,
merupakan alat yang mampu mengangkat martabat manusia jika jatuh pada tangan
yang tepat.
Manusia modern merasa bebas karena
mereka dapat berbuat apa saja. Terdapat kebebasan pers, dan lain sebagainya.
Namun, banyak umat manusia yang sama sekali tidak memikirkan hidupnya secara
kritis dan mereka merasa malas, yang pada akhirnya menggantungkan hidupnya pada
kemajuan yang dihasilkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan itu sendiri, seperti
halnya menggantungkan hidup sepenuhnya pada teknologi. Sejauh teknologi
memungkinkan kemajuan di bidang sosial-ekonomi, dengan mengenyangkan perut,
meringankan pekerjaan, sejauh itu pula umat manusia memiliki sikap kritis yang
meredup.
Keterasingan pada manusia menjadi
fakta yang dominan dan bisa dikatakan paling brutal dalam kehidupan modern
karena umat manusia modern mengalami krisis identitas. Tidak ada lagi manusia
otentik seperti tokoh Zarathustra dalam Thus
Spoke Zarathustra dalam karya Friedrich Nietzsche, karena dengan
perkembangan ilmu pengetahuan yang mengejawantah menjadi kemajuan teknologi
menjadikan manusia mengalami buta akut, seperti terlarut dalam industri
pariwisata dan industri hobi, yang mana sebenarnya itu adalah sebuah tindakan reduksi
cita-cita manusia pendahulu.
Secara faktual, kehidupan umat
manusia modern sudah banyak mengalami berbagai kemajuan yang menunjukkan
perkembangan ilmu pengetahuan dapat melahirkan berbagai teknologi serba
canggih. Teknologi dan pengetahuan sudah menjadi dua hal yang saling berkaitan
erat bagi umat manusia modern. Teknologi pada abad modern mempunyai pengaruh
yang terlihat jelas dan memiliki citra yang unggul, kepercayaan manusia modern
kepada keistimewaan teknologi bersandar pada filsafat materialisme,
individualisme, dan sekularisme. Filsafat tersebut mempengaruhi umat manusia
untuk percaya pada keistimewaan teknologi.
Dalam kehidupan manusia modern,
terdapat kecenderungan yang selalu menuhankan materi, sesuatu yang materialis
dapat dipercaya untuk membuat manusia mencapai kebahagiaan. Maka, dalam
kehidupan abad modern banyak manusia yang berkiblat pada materialisme karena
kepercayaannya siap dalam mengorbankan rasa kemanusiannya untuk memperoleh
keuntungan material yang banyak. Ditambah dengan derasnya arus globalisasi
sangat memberikan dampak bagi peran manusia yang semakin terdegradasi.
Lantas, siapa yang disejahterakan
dalam kemajuan ilmu pengetahuan ini? Apakah seluruh umat manusia mengalami
kesejahteraan? Apakah tidak ada lagi penindasan-penindasan yang terdapat pada
manusia satu ke manusia lain? Jika dilihat dari polarisasi demikian, pasti,
untuk kesejahteraan berada pada masing-masing pundak manusia yang memiliki
modal untuk membuahkan hasil-hasil industri itu sendiri. Dan, sama sekali,
kemajuan itu berpihak pada sebagian umat manusia yang tidak memiliki nilai
material yang lebih, katakanlah perihal uang/modal.
Kendati demikian, kemajuan
filsafat/ilmu pengetahuan telah berupaya untuk menawarkan berbagai solusi.
Seperti tokoh yang bernama Karl Marx, ia benar-benar mengecam dengan adanya
polarisasi yang lebih memihak kepada si pemodal, atau Karl Marx menyebutnya
dengan kaum Borjuis. Berangkat dari filsafat Hegel, Marx berusaha untuk
memberikan solusi akan hal itu, dikenal dengan teori konsolidasi kaum pekerja,
Marx menyebut dengan kaum Proletariat, Marx meyakini bahwa ketertindasan pada
sebagian umat manusia itu akan hilang, dan pada akhirnya kehidupan umat manusia
menjadi sejahtera dengan tawaran yang diutarakannya, yaitu menuju manusia
setara.
Lalu, apakah tawaran seorang Marx
itu mendapatkan hasil? Dilihat dari sisi historisnya, sama sekali tidak
berhasil. Sampai perhari ini, dengan arus globalisasi dan kemajuan teknologi
benar-benar masif di berbagai wilayah, umat manusia merasa berbagai solusi
tidak akan merubuhkan konstruksi ilmu pengetahuan yang dirasa ugal-ugalan. Sehingga, menjadikan umat
manusia menjadi umat yang menerima arus kemajuan itu semua, terlepas dari
kesiapan ataupun ketidaksiapan umat manusia yang lain untuk mengahadapi
kemajuan itu. Dan, pada fase ini, bisa dikatakan bahwa umat manusia telah
terjerembab dalam rasio dan kemajuan yang mereka ciptakan sendiri.
Komentar
Posting Komentar