Mengkiblat Senja : Memeluk Nafas, Pada Belenggu Otoritas
Pendidikan merupakan hal yang paling fundamental untuk memupuk kesadaran agar peradaban yang akan datang telah mengalami evaluasi-evaluasi yang dilakukan oleh peradaban yang telah berlalu. Tak lebih pada pendidikan di perguruan tinggi. Melalui tantangan zaman yang acapkali mengalami perubahan, negara telah membuat beberapa regulasi untuk menabik hal yang dirasa penting bagi keberlangsungan hidup para rakyatnya. Namun, apakah implementasi dari adanya regulasi negara telah menjawab mengenai kemajuan zaman itu sendiri?
Pada suatu perdiskusian yang lalu, di lingkaran para aktivis pergerakan, tak sedikit telah membicarakan bagaimana sistem birokrasi kampus perhari ini telah menghegemoni pola pikir kawan-kawan yang lain. Bagaimana tidak, pada tataran bangku perkuliahan pun, para mahasiswa perhari ini dirasa kurang melek terhadap isu-isu yang telah ada. Bahkan, sebenarnya, isu tersebut telah merugikan mereka dan merampas hak-hak mereka. Sangat disayangkan, yang semula digadang menjadi sesosok agen untuk perubahan yang lebih baik, perhari ini tak lebih hanya menjadi momok penghambat perubahan itu sendiri.
Alih-alih mengimplementasikan regulasi negara mengenai dunia pendidikan untuk menabik tantangan zaman, agaknya birokrasi kampus telah melakukan praktik-praktik yang sama sekali tidak menitik akhirkan pada kesejahteraan rakyat kampus dan mengevaluasi jalannya peradaban yang lalu. Justru, beberapa kampus telah larut dalam permasalahan komersialisasi pendidikan yang telah ada. Kanal media beberapa waktu lalu telah mewartakan, bahwa beberapa mahasiswa meninggal dunia sebab kerasnya praktik komersialisasi pendidikan. Dengan dalih kebutuhan birokrasi kampus, uang kuliah digentorkan untuk keberlangsungan pendidikan agar tetap berjalan.
Riska, salah seorang mahasiswi di kampus ternama Yogyakarta, menutup usianya karena tercekik oleh komersialisasi pendidikan yang ada di kampusnya. Sebenarnya, ada Riska-Riska yang lain di luar, bagaimana komersialisasi pendidikan mencekik mahasiswa dan orang tuanya. Namun, apa boleh buat, sistem yang berjalan jarang disadari oleh beberapa mahasiswa untuk menuntut hak-hak pendidikan di negaranya sendiri dan peran birokrasi kampus mampu untuk menghegemoni pola pikir mahasiswa yang lain.
Mengobrolkan bagaimana sikap birokrasi kampus yang dirasa merugikan mahasiswanya sampai mengobrolkan trik/tutorial untuk membuat birokrat merasa terancam dengan kelakuannya, namun, alih-alih menemukan solusi agar hak-hak yang terampas mampu direbut, justru, yang saya dengar dari obrolan tersebut adalah sebuah trik untuk menggantikan para birokrat yang kurang ajar itu, dengan menyusun sebuah siasat-siasat agar lingkaran itu bisa mendapatkan keuntungan dari permasalahan itu.
Logika yang demikian agaknya perlu untuk dibenahi, seakan memadamkan api di suatu titik agar api itu tidak membara sehingga membakar mereka-mereka yang berada di dekatnya, justru, menciptakan api pada titik-titik lain yang pada nantinya membakar segerombolan orang yang lain. Praktik sedemikian rupa telah ditunaikan para aktivis pergerakan di lingkaran tersebut. Sayang seribu sayang. Kelompok yang digadang menciptakan perubahan untuk peradaban lebih baik lagi telah terjerembab pada pola pikirnya sendiri.
Lantas, tempo lalu juga, di lingkaran para kelompok yang tidak tergabung dalam lingkaran aktivis pergerakan itu, juga membincangkan obrolan tentang bagaimana mereka menyusun siasat agar hak-hak yang terampas bisa direbut kembali. Obrolan yang menarik, sehingga memunculkan sebuah solusi seperti halnya; sabotase kampus, insureksi, dan hal-hal yang lainnya. Namun, lagi-lagi, mereka terjerembab dalam retorika yang mereka ciptakan sendiri; hanya berhenti pada obrolan, tanpa adanya aksi.
Jika demikian adanya, perhari ini, ingin berharap kepada apa dan siapa? Seakan tak ada harapan yang lebih untuk ditunaikan pada hari esok, kita dituntut hidup pada belenggu-belenggu yang sama sekali tidak berpihak pada keberlangsungan hajat hidup itu sendiri. Barangkali, selain kutipan kata Nietszche; Fatum Brutum Amorfati, tak ada yang diharapkan pada keberlangsungan hidup di dunia yang penuh dengan penindasan sistemik ini. Meskipun, sejatinya, penindasan sistemik itu sendiri bukanlah sebuah takdir yang patut untuk dirayakan, akan tetapi sebuah nasib sial yang dilanggengkan oleh para brengsek berseragam.
Selamat menikmati hidup yang gini-gini amat. Tetaplah hidup untuk menghadapi kekalahan di esok hari seusai matahari terbit, barangkali, tidak hanya kekalahan pada aspek komersialisasi pendidikan, namun, pada aspek yang lebih kompleks.
Salam Hangat. TABIK !



Komentar
Posting Komentar