Tanggal-Tinggal Semesta Kita
“Aku ingin anak-cucuku menikmati dan merasakan keindahan alam semesta seperti apa yang telah aku nikmati sampai dewasa ini.
Tanam percikan api kesadaran, pupuk semangat, dan tumbuh subur untuk orang-orang yang mulai sadar untuk keberlangsungan romantisme semesta.”
-Bahari-
Ekologi, seperti yang diungkapkan oleh (G.Tyler Miller;1975) adalah sebuah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara organisme dengan organisme lain dan dengan lingkungannya. Namun, mari kita sadari dan resapi bersama, bagaimana keadaan ekologi sampai pada detik ini? Apakah ekologi berjalan dengan cita-cita manusia pada umumnya? Ataukah, malah sebaliknya?
Berbicara
perihal ekologi, lagi-lagi ekologi lagi, barangkali kita merasa jenuh dengan
kajian ekologi, sebab, pada kesempatan kajian apapun di ranah akademisi ataupun
kajian-kajian kecil pada lingkup komunitas acapkali sering dibahas.
Akan tetapi, apakah kajian itu bisa dikatakan tuntas? Serta ada dampak yang
muncul bagi kita, manusia, yang tergolong dalam pelaku ekologi itu sendiri,
untuk berbenah dalam hal yang lebih baik lagi?
Pada dasarnya, jika berkutat pada ekologi, kita coba korelasikan dengan sistem kapitalisme dan epos antroposentrisme. Di ranah kajian antroposentrisme, mayoritas dari kita, mungkin, telah mengetahui pada beberapa titik dalam kehidupan kita, katakanlah pada aspek humanisme, merupakan arus yang menjadikan manusia sebagai pusat dari semua keberadaan. Entah pada ranah kesejahteraan, baik fisik, psikis, ataupaun moral manusia. Sehingga, memuaskan semua kebutuhan manusia.
Jika demikian nyatanya, maka pertanyaan yang muncul setelahnya adalah siapa manusia antroposentris yang paling bertanggung jawab atas terjadinya krisis ekologi ini? Beralih pada tanggapan para ahli ekologi, ilmu bumi lebih tepatnya, seperti Paul Crutzen serta Eugene Setoermer, sedikit banyak mari dipetakan dengan menempatkan epos antroposentrisme dalam ranah produksi kapitalisme.
Menjelaskan kapitalisme secara singkat sebenarnya juga terlalu naif, sebab, Karl Marx, sebut saja nabinya para intelek kiri, telah menjelaskan dalam bukunya yang berjudul das kapital yang berjilid-jilid itu. Akan tetapi, mari meraba-raba benang merah yang disampaikan oleh Marx tersebut. Secara sederhana, penjelasan kapitalisme itu sendiri tidak lain adalah beroirentasi pada keuntungan/laba, secara hierarki, bisa dipetakan oleh Uang, Komoditi, serta Uang yang Lebih Besar/laba yang tiada batasnya. Dan semua itu adalah wujud nyata dari perilaku manusia itu sendiri, yang digadang-gadang oleh kajian antroposentrisme adalah sebagai pusat dari alam semesta.
Menurut Marx, kapitalisme adalah sebuah sistem sosial produksi yang bermula dari uang, kemudian uang tersebut digunakan untuk membeli komoditi, lalu di ranah selanjutnya komoditi tersebut dijual ke pasar untuk mendapatkan Uang lebih besar lagi. Marx mengatakan, bahwa ketika sipelaku kapitalisme itu membelanjakan uangnya untuk sebuah komoditi, maka komoditi yang dibelinya itu adalah berupa alat-alat produksi dan tenaga kerja, dan pada nantinya komoditi-komoditi itu akan menghasilkan komoditi baru yang nantinya akan dijual lagi untuk meraup Uang yang lebih besar seperti apa yang sudah sedikit dibahas di atas.
Lantas, sebenarnya benar, apa hubungan ekologi, antroposentrisme, dan kapitalisme yang dikatakan oleh Marx itu? Dari sedikit penjelasan tersebut, pastilah kita bisa meraba-raba terkait korelasi apa yang ada di ketiga konteks tersebut. Pada dasarnya, ekologi sendiri adalah sebuah bidang keilmuan yang terfokus pada timbal-balik apapun yang ada di semesta, dan manusia adalah pelaku dari pergulatan yang ada di dalam semesta, lalu kapitalisme adalah sebuah sistem yang perhari ini dianut oleh mayoritas manusia yang terbilang ada di dalam semesta itu sendiri.
Masih menurut Marx, kapitalis perhari ini benar-benar memiliki kekuasaan, bukan karena kemampuan personal atau kualitas kemanusiaannya, tetapi lebih karena kedudukannya sebagai seorang pemilik dari kapital. Seperti yang sudah dijabarkan sedikit-banyak tadi, karena sistem kapitalisme adalah sistem yang berorientasi pada pengejaran dan penumpukan profit setinggi-tinggiya tanpa terinterupsi, maka, secara alamiah demikian pula tujuan utama para kapitalis ini.
Dalam Capital Vol.1, kata Marx, ringkasnya, kapitalis tidak hanya bertujuan untuk memproduksi nilai guna, akan tetapi juga mengahsilkan sebuah komoditi, tidak hanya sebuah komoditi, tapi juga nilai lebih. Dalam bahasa sehari-hari, tujuan utama kapitalis adalah untuk mendapat keuntungan sebesar-besarnya secara terus menerus. Jika dalam populasinya ia mengalami penurunan, atau bahlan sampai kerugian, maka ia akan keluar atau dipaksa keluar dari medan sirkulasi kapital itu.
Sedari penjelasan ini, jikalaupun diraba-raba lebih dalam, hubungan antara ekologi dan kapitalisme sangat lumayan kental. Ambil contoh saja, pada pergulatan semesta, yaitu kasus industri yang berfokus pembakaran fosil/batu bara yang diambil uapnya, entah untuk pembangkit tenaga listrik ataupun untuk hal lainnya. Pengambilan batu bara sendiri seperti apa yang kita ketahui bersama, tidak lain tidak bukan adalah ditambang. Akibat dari penambangan batu bara ini, misalnya, terjadi pelepasan karbon dioksida, nitrgoen oksida, sulfur dioksida, dan gas metana yang menyebabkan terjadinya pemanasan global dan perubahan ikluim secara ekstrim, peningkatan suhu bumi, mencarinya es di kutub, terjadinya hujan asa, dst. Selain itu, akibat dari penambangan batu bara ini kualitas tanah/kesuburan tanah menurun drastis, air tercemar limbah merkuri dan zat logam, muncul bekas galian, banjir. Dari aspek kesehatan pun, pembakaran batu bara ini menyebabkan kanker di paru-paru, penyakit ginjal kronis, apalagi, bagi seluruh warga sekitar peristiwa itu terjadi.
Celakanya, Indonesia adalah salah satu negara produsen batu bara terbesar di dunia, dengan produksi mencapai 606,7 juta ton pada 2021 (dilansir dari project multatuli). Dengan demikian, Indonesia juga merupakan salah satu penyumbang terbesar dari krisis ekologi sampai perhari ini, 2022. Serta, output dari hasil prduksi batu bara tersebut tidak lain tidak bukan hanya untuk kebutuhan manusia. Bersifat antroposentrisme pun kapitalisme bukan? Seharusnya, untuk tanggung jawab penuh pada penanganan krisis ekologi ini adalah para kapitalis, akan tetapi, tidak menutup kemungkinan, kita, sebagai manusia juga menjaga dan merawat semesta-semesta kecil yang lain. Pun itu adalah sebuah keniscayaan, seperti apa yang sudah dikatakan oleh sabda Tuhan, bahwa, manusia adalah Khalifah fil Ardh, Pemimpin Pergulatan Semesta.
Di sisi lain, jikalaupun demikian keadaannya, paling tidak peran negara disini juga sangat dibutuhkan. Negara, selaku pembuat regulasi-regulasi yang ditaati oleh seluruh warga masyarakatnya, harus serta wajib bertindak tegas dengan keadaan demikian. Sebab, tidak bisa kita pungkiri bersama, jika hal tersebut terus menerus akan terjadi, kemarahan semesta bukan lagi sebuah dongeng semata, bisa jadi benar nyatanya. Selayak dan seharunsya kita, manusia, yang digadang-gadang oleh sabda Tuhan sebagai pemimpin semesta turut sama-sama menjaga semesta itu sendiri.



Komentar
Posting Komentar