Senjakala Kehidupan: Merindu pada Jerit Kematian


 

”Masa kecilku? Semua orang pastilah merasakan bahwa masa kecil adalah dunia yang indah, di mana selalu ingin kita kembalikan lagi dalam hidup kita. Karena, dunia masa kecil adalah dunia yang tidak penuh tergesa-gesa untuk menuju finish kehidupan yang indah dan segalanya serba menyenangkan untuk dikenang, termasuk pengalaman pahit menyerang pikiran kita sekalipun. Tetapi, bagiku, masa kecil adalah kehidupan yang ditelan oleh sebuah raksasa besar, yang tepat berada di sekelilingku. Raksasa inilah yang selalu mendorongku dengan dahsyat untuk selalu kembali ke masa kelamku tanpa kuasa menolaknya.”

Dia menghentikan bicaranya. Duduknya mendekat, dan tiba-tiba kedua tangannya yang diborgol mencengkeram jeruji besi. Aku sedikit terkejut, sehingga mundur beberapa langkah. Sejenak, dia memandangku yang rupanya dirasakan ketidakpahamanku atas kata-katanya. Dia memandangiku dengan pandangan yang sangat tajam dan liar. Lalu, dia alihkan pandangannya pada cicak yang merayap di atas, di plafon tepatnya.

Mulutnya tertutup rapat dan sesekali terdengar suara gertakan yang muncul dari dalam mulutnya, barangkali giginya terus menggeretak. Kedua tangannya yang masih terborgol meregang dan bergetar. Seorang petugas penjara, yang sedari tadi duduk di sampingku berjarak beberapa meter, segera berusaha menghalau cicak itu dengan pukulan yang dihempaskan pada jeruji besi, sehingga, lenyaplah cicak itu keluar dari lubang angin. Kemudian, dia tenang, matanya redup memandangku penuh iba. Sementara petugas penjara kembali duduk, lalu menghadapku dengan senyuman.

“Ada apa dengan cicak itu?” tanyaku kepadanya. Meskipun, sudah kuketahui beberapa informasi tentangnya dari petugas penjara itu.

Seperti tidak mendengar pertanyaanku, dia melanjutkan ocehannya;

“Semenjak terjadi peristiwa itu, setiap hari aku melihat orang-orang terikat kedua sikunya hingga seperti merekat di punggungnya. Mereka diangkut oleh raksasa besar yang jahat itu, di bawa dengan truk, dan banyak orang digelandang oleh raksasa itu. Termasuk bapakku! Sejak itu pula telinga kecilku begitu akrab dengan raungan orang sekarat menjelang ajal.”

Mukanya mengernyit dengan mata terpejam seperti menderita kesakitan yang sangat luar biasa.

Setelah mengambil napas panjang, dia dekatkan wajahnya padaku sambil setengah berbisik;

“Suara.... suara itu menelan kehidupan masa kecilku, bahkan sampai sekarang. Jeritan orang tersiksa, itu terdengar setiap malam, semua membuatku menggigil ketakutan. Bayangan kengerian ini selalu mengganggu tidur. Bahkan, sampai kedalam mimpiku. Tetapi, semakin lama suara itu menjadi candu yang membuatku nampak ketagihan. Kepuasan apa yang aku kurang ketahui selalu membuat jantung berdebar setiap mendengar jeritan situ. Apalagi, kalau aku yang menciptakan suara itu... seperti yang ingin kulakukan terhadap cicak itu.”

Dia rebahkan punggungnya di sandaran kursinya. Kepada petugas penjara, dia mengisyaratkan meminta rokok dengan uluran tangannya. Sebatang rokok kretek yang sudah disulut disodorkan penjaga dan dengan sangat bernafsu dia menghisapnya dalam-dalam. Sesekali, matanya mengikuti arah terbangnya hembusan asapnya.

Namun, yang paling membuatnya bergairah adalah, apabila dia bisa menangkap cicak dan kemudian mencekiknya hingga berdecit-decit sampai mati. Juga, pada binatang yang lebih besar lagi, seperti ayam atau kucing. Rupanya, keadaan ini semakin berkembang. Di usia remaja dia pernah mencekik teman setongkrongannya. Sewaktu menjadi mahasiswa, dia pun juga pernah mencekik pacarnya.

Mungkin kelakuannya yang demikian, sehingga membuat dia mendekam di penjara, bukan di rumah sakit jiwa. Apabila hal-hal itu datang pada dirinya, cerita petugas penjara, nafsu dan hasratnya datang tak tertahankan untuk mencekik siapa saja. Bahkan, kepala sipir nyaris menjadi korban keganasannya. Kemarin nyaris, dia dihakimi oleh sesama narapidana lainnya, karena beberapa kali mencoba melampiaskan hasrat brutalnya kepada temannya. Sehingga, sekarang, dia menghuni di sel isolasi, dan kedua tangannya di borgol.

Seorang yang sampai tewas karena ulahnya adalah istrinya sendiri. Wajahnya yang bersih, dan sikap bicaranya yang halus, sepertinya sama sekali tidak menyiratkan bahwa dia begitu kejam dan beringas. Namanya, adalah Paijo, pria berumur kurang lebih 30 tahunan, dan istrinya yang ia cekik sampai tewas, adalah Painah, perempuan yang berumur hampir sama dengan Paijo.

Beberapa saat, dia hentikan rokoknya, dia memandangku seakan ingin mengetahui apa yang aku pikirkan.

“Sungguh, Mas, aku sangat menderita dengan ini,” katanya setengah berbisik.

“Mas Paijo, aku ini Bahari, teman kecilmu dulu, adiknya si Ardi temanmu ketika duduk di bangku Sekolah Dasar. Masih ingat?” Sahutku cepat.

Dia menatapku agak lama, memicingkan matanya dan kemudian menggeleng. Mungkin dia tidak ingat. Memang tidak sesering kakakku yang bertemu dia setiap hari pada saat itu.

“Ah, sama saja!” jawabnya,”siapapun itu, paling suka menanyai kehidupanku,” sambil tersenyum dia melanjutkan,”Aku sadar apa yang telah kulakukan setelah semuanya terjadi. Bermula dari kenikmatan yang aku rasakan dengan membelai bulu dan rambut mereka, tapi kemudian getaran aneh mulai merayapi tanganku menuju puncak gairah kenikmatan yang tak terhingga dengan mendengar jerit kematian. Begitu pula dengan rambut ikal istriku...” perlahan air matanya merebak dan kemudian tersedu-sedu, “Sungguh, Mas, aku sangat menderita dengan ini. Tolonglah aku!” pintanya mengiba.

“Aku mengerti perasaanmu, Mas Paijo. Dengan rasa kesadaranmu tentang itu semua, buanglah anggapan orang atau anggapanmu sendiri bahwa kamu sakit jiwa. Kamu sehat jiwa-raga. Memang, dalam diri kita ada sifat baik dan buruk yang berperang, dan saling ingin menguasai diri kita. Lerailah peperangan itu dengan berdoa dan mohon pertolongan kepada Tuhan,” kataku sok menggurui.

“Hahahahahaha....” tiba-tiba tawanya berderai, “setiap orang yang mendengarkan ceritaku akan memberi nasihat seperti itu, hahaha...ha!”

Dia kemudian bangkit dan dengan kedua tangannya yang diborgol mengisyaratkan cepat pergi. Aku terperangah. Tawanya terbahak-bahak tak henti-henti.

Bergegaslah aku pergi. Lalu, singkat cerita, 2 tahun kemudian, ada informasi bahwa dia ditemukan di dalam kerangkengnya dengan keadaan sudah tak bernyawa, dengan bekas cekikan di lehernya. Segeralah aku pergi ke rumah tahanan itu dan bertanya pada petugas penjara, bagaimana itu bisa terjadi?

Setelah pintu masuk rumah tahanan, langsung aku tanyakan, “bagaimana mas Paijo bisa meninggal dengan keadaan seperti itu, pak?”

“Selama setahun dia tidak diperbolehkan keluar dari kamar tahanan, karena akan selalu mencoba mencekik siapa saja. Hingga pada suatu malam, sehari sebelum dipindah ke rumah sakit jiwa, semua penghuni tahanan dikejutkan oleh suara orang sekarat. Mungkin karena tidak ada sasaran untuk bisa menikmati kesukaannya mendengarkan orang menjerit meregang nyawa, akhirnya dia mencoba menikmati suara kematiannya sendiri dengan mencekik lehernya. Beberapa kali sebelumnya bisa dicegah, tetapu begitu terlena, malam itu dia teruskan cengkraman tangannya mencekik lehernya sendiri. Lalu, pagimya ditemukan dia sudah meninggal.”

“Innalilahiwainnailaihirojiun, alfatihah untukmu, Mas Paijo.”

Komentar

Postingan Populer