Mencari Sekeping Kehidupan yang Hidup
Hidup diantara manusia-manusia hipokrit, tepat di sebuah golongan yang sekarat, membuatku benar-benar merasa asing pada kehidupan dan duniaku sendiri. Entah, apa yang menancap di masing-masing kepala manusia, atau jangan-jangan hanya di kepalaku. Sebenarnya benar, jujur, aku hanyalah aku, yang begitu lemah dan mungkin juga pecundang. Dunia yang dipenuhi oleh manusia hipokrit, absurd, dan sama sekali tidak berpihak padaku telah berhasil memporakporandakan jiwaku, aku berhasil dipecundanginya.
Ketika tengkorak kepala yang hanya berukuran sekepal ini dipenuhi oleh kecemasan-kecemasan yang berlebih, menangis di pojok kamar sembari sesenggukan, entah, apa yang menjadikanku sepecundang ini. Padahal, sedari kecil, aku dirasa tangguh untuk menghadapi segala hal brengsek di dunia; ditinggal oleh ayah, dan hidup sebatangkara bersama sesosok ibu, kakak, dan juga adik, merasakan bagaimana hidup begitu keras menimpa kami.
Namun, semua itu tampak berubah ketika aku menginjak dewasa; terjebak oleh manusia hipokrit, dunia penuh dengan penindasan sistemik, dan juga tenggelam dalam lautan asmara yang sama sekali tidak kutuntaskan. Sesekali perasaan serta pikiran itu gugur, ketika aku memutar dan mendengarkan musik dari handpone bututku; mendengarkan Pangalo dan Senartogok. Aku larut dalam sajak yang telah dibuat mereka. Sembari aku menyusun puing-puing semangat untuk hidup keesokan harinya.
Pernah, di suatu lalu beberapa kawan bergumam kepadaku saat kuteguk alkohol bersamanya, dan salah satu kawan yang sampai perhari ini kuingat perkataannya, seraya dia melangit dan terbang dalam kefanaan alam bawah sadarnya, dia berkata:
"Dengarkan aku Bahari! Perkara hidup, mungkin, kita bisa bersepakat bahwa hidup begitu brengsek dan memuakkan. Apalagi, untuk manusia seperti kita, yang tak mengamini arus jalan modernitas kehidupan, yang terbiasa dengan kesendirian, dan menjadi liyan. Namun, kita harus percaya sampai detik ini, bahwa hidup musti dijalani seberapapun brengsek, memuakkan, dan juga absurd. Membaca dan menjalani jalan cerita yang membuat kita panas dan cemas, itu adalah hal lumrah dalam hidup. Namun, pilihan untuk hidup ataupun mati, itu bukan hanya perkara ilmiah belaka, akan tetapi juga keputusan politik".
Sejenak, aku merasa kaget dengannya, satu kawan ini yang kutahu pernah hampir mengakhiri hidupnya, bisa memutuskan sikap sedemikian rupa. Dan seketika, setelah dia mengucapkan hal demikian, aku teringat dengan sajak yang pernah dibawakan oleh Senartogok: "Pulanglah semangat ke badan! tak ada ajal yang bisa kita hentikan dengan tawa. Tak ada mati yang bisa kita tunda dengan amarah. Namun, teruslah hidup! jangan mati! Sebelum api padam untuk pertarungan harum abadi,".
Ya, dan ternyata dengan ucapan-ucapan seperti itulah, aku merasakan kehidupan yang hidup. Meskipun, sesekali, pada akhir pekan biasanya, mode bunuh diri filosofis masih aku ritualkan dalam sela-sela hidup. Dan untuk kawan-kawan yang juga merasakan absurditas kehidupan, ketidakberpihakan kehidupan, seringkali dipecundangi oleh kehidupan, satu hal yang perlu kalian ingat:
"Mengakhiri hidup dengan gantung diri dsb bukanlah sebuah solusi. Meskipun acapkali kita kalah, namun tetaplah melanjutkan hidup. Sebab, pilihan untuk hidup ataupun mati, itu juga bukan perkara ilmiah saja! Akan tetapi juga keputusan politik".
Hormatku untuk kalian!TABIK!



Komentar
Posting Komentar